BNPT RI: Guru Jadi Agen Pencegahan Radikal Terorisme di Sekolah dan Lingkungan

Nasional1031 Dilihat

PALU – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI berharap para guru, khususnya di Sulawesi Tengah (Sulteng) menjadi agen pencegahan radikal terorisme di lingkungan sekolah dan masyarakat. 

Keterlibatan para guru sangat penting, karena anak muda atau siswa sekolah menjadi target utama kelompok radikal terorisme untuk menyebarkan paham kekerasan dan anti NKRI.

“Kami berharap dengan kegiatan ini, para guru bisa menyampaikan pada murid dan orang terkasih kita, keluarga, grup WA, tetangga, sehingga nanti bapak/ibu guru bisa jadi agen pencegahan radikal terorisme di lingkungan masyarakat,” ujar Kasubdit Kontra Propaganda BNPT RI, Kolonel Sus Solihuddin Nasution, saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan “Pendidikan Guru Dalam Rangka Pencegahan Radikal Terorisme di Satuan Pendidikan” di Aula SMA 1 Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (22/11/2023).

Ia menjelaskan, kegiatan digelar untuk memberikan pemahaman kepada para guru, agar mengetahui bagaimana kelompok teror memapar target. 

Tidak hanya masyarakat awam, bahkan seorang profesor, rektor, TNI, Polri, dan seluruh lapisan masyarakat bisa terpapar radikal terorisme.

“Faktanya ada, guru bisa terpapar, murid bisa terpapar, makanya kami dari BNPT selalu berusaha mengajak seluruh elemen bangsa termasuk pendidikan untuk bersama memberikan pemahaman terutama kepada anak didik dan orang terdekat, bagaimana kelompok terorisme bisa menyasar semua orang,” kata dia.

Ia menambahkan, dari hasil penelitian yang paling banyak terpapar dari anak muda berusia 13-32. Untuk itu, kegiatan seperti itu, ke depannya bakal lebih sering digelar sebagai upaya memberikan imunitas kepada anak didik dari paparan radikal terorisme. 

“Kegiatan di SMA 1 Palu ini menjadi kegiatan perdana. Inilah tujuan digelar pelatihan guru. Hari ini pilot project kita. Tahun depan kita latihan seperti ini terutama di 10 wilayah yang indeks resiko terorisme tinggi yang kita utamakan,” katanya.

Menurutnya, dunia pendidikan harus melaksanakan fungsinya sesuai tugas dan tupoksi masing-masing. Diamanahkan Undang-undang, yang wajib hukumnya dilaksanakan dan dilaporkan ke Kemendikbud. 

Kemudian Mendikbut melaporkan ke Wakil Presiden (Wapres). Kegiatannya bisa yang sudah ada dan bukan membuat kegiatan baru. Dengan demikian diharapkan masyarakat bisa ikut dalam pencegahan radikal terosime

“BNPT sangat berterima kasih pada bapak/ibu guru dan semua pihak, terutama SMA 1 Palu , dimana sama-sama kita mengusung visi Sekolah Damai di Sulteng,” ujarnya. 

“Saya yakin, ini jadi visi kita semua. Kami berharap seluruh level sekolah jadi Sekolah Damai yang bersih dari intoleransi, radikalisme, dan bullying,” lanjutnya.

Sekretaris Dinas Pendidikan Sulteng, Asrul Ahmad, mengapresiasi kegiatan pelatihan ini. Menurutnya, ada tiga dosa besar dalam dunia pendidikan, yaitu intoleransi, kekerasan termasuk kekerasan seksual, dan buli.

Ia berharap, dengan kegiatan ini para guru bisa meningkatkan pemahamannya keterkaitan antara intoleransi dengan radikal terorisme, dan bagaimana penyebaran terorisme itu masuk ke satuan pendidikan.

“Intinya bagaimana kita mampu mengimplementasikan visi dan misi apa itu buli, intoleran, kekerasan. Tapi ketika bicara implementasi tentunya butuh peran dan tanggung jawab serta perhatian sungguh-sungguh,” katanya.

Sementara Kepala Sekolah SMAN 1 Palu, Dahlan Mohammad Saleh, berterima kasih kepada BNPT dengan digelarnya pelatihan tersebut di sekolahnya.

“Bersyukur pada hari ini kegiatan Pelatihan Guru Dalam Rangka Pencegahan Radikal Terorisme di Satuan Pendidikan ini. Karena memang kita ketahui masalah terorisme perlu didahului dengan pencegahan. Ini salah satu bentuk bagaimana BNPT berusaha untuk melaksanakan model-model pencegahan,” kata Dahlan.

Menurutnya, salah satu modus dari kelompok yang mengatasnamakan teroris, meski mereka tidak suka disebut menyasar kaum remaja. Karena itu, siswa perlu diberikan pemahaman melalui para guru terkait pencegahan radikal terorisme.

“Ini penting bila dari siswa itu sendiri diberikan pemahaman, penjelasan, pengetahuan, sehingga selanjutkan anak-anak kita mau ke Perguruan Tinggi, mereka sudah dapat bekal bagaimana menangkal paham radikal,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *