Garda Nasional
No Result
View All Result
Rabu, 21 Oktober, 2026
  • Login
  • Beranda
  • Nasional
  • Daerah
  • Internasional
  • Kabar Mabes
  • Persenjataan
  • Ragam
Subscribe
Garda Nasional
  • Beranda
  • Nasional
  • Daerah
  • Internasional
  • Kabar Mabes
  • Persenjataan
  • Ragam
No Result
View All Result
Garda Nasional
No Result
View All Result
Home Nasional

Kearifan Lokal Seperti Lebaran Ketupat, Menguatkan Semangat Toleransi

by Irfan Mualim
17.04.2024
in Nasional
A A
Berbangsa dan Bernegara Merupakan Fitrah Manusia

MAKASSAR – Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, perayaan Idul Fitri 1445 Hijriah juga diwarnai oleh berbagai tradisi budaya dan kearifan lokal yang semakin merekatkan hubungan antar masyarakat. Nilai serta adat istiadat yang juga ikut dilaksanakan tentu tidak ada salahnya selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Mengulas tentang pentingnya peranan nilai dan kearifan lokal dalam syiar Islam di Indonesia, Sekretaris Umum pada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Prof. Muammar Bakry, menjelaskan perayaan Idul Fitri di berbagai daerah biasanya dipadukan dengan kebiasaan masyarakatnya. Hal ini justru bisa menguatkan semangat toleransi antar golongan masyarakat Indonesia.

“Kita patut bersyukur karena menjadi orang Islam yang tinggal di Indonesia, atau orang Indonesia yang muslim. Memeluk Islam di negara lain belum tentu bisa senyaman di Indonesia. Selain itu, rasa syukur menjadi orang Indonesia ini ada karena umat muslimnya difasilitasi dengan adanya nilai-nilai kebaikan setempat, atau yang kita kenal juga dengan istilah local wisdom,” ujarnya di Makassar, Rabu (17/4/2024).

BACA JUGA

Mewujudkan Toleransi di Riau, Upaya BNPT dan DPR RI Cegah Radikalisasi

Mewujudkan Toleransi di Riau: Upaya BNPT dan DPR RI Cegah Radikalisasi

05.04.2025
Ilustrasi Libur Sekolah

Libur Sekolah Selama Ramadhan dan Idul Fitri 2025 Diperpanjang

04.03.2025

Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini menerangkan, dalam Alquran kearifan lokal dikenal dengan istilah ma’ruf. Penggunaan istilah ma’ruf sendiri merujuk pada segala nilai kebaikan, baik yang muncul dari ajaran agama, ataupun yang memang berasal dari masyarakat yang menjalankannya.

Ia berujar, selama nilai-nilai kearifan lokal yang dilakukan tidak bertentangan dengan syariat Islam, maka esensi kebaikan didalamnya perlu dikembangkan dan dilestarikan sebagai bentuk kekayaan budaya umat Islam di Indonesia.

Imam Besar Masjid Al Markaz juga membahas tentang kearifan lokal di masa Idul Fitri seperti lebaran ketupat yang biasanya dilakukan beberapa hari pasca lebaran 1 Syawal. Kebiasaan masyarakat seperti ini menurutnya adalah hal yang positif, karena bisa meningkatkan kerukunan masyarakat dan menunjukkan keterkaitan yang kuat antara Idul Fitri dan semangat kebangsaan Indonesia.

“Terdapat relevansi yang sangat terasa, antara perayaan Idul Fitri dengan semangat kebangsaan, serta kebersamaan orang Indonesia. Kenapa? Karena salah satu makna Idul Fitri itu adalah kembali ke fitrah. Fitrahnya kita ini kan diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Itulah kenapa pada hari lebaran, orang kangen untuk pulang kampung, karena fitrahnya manusia adalah sebagai orang kampung, yang punya tanah air dan bangsanya sendiri,” jelasnya.

Akademisi yang aktif menyoroti isu toleransi dan moderasi beragama ini menyatakan bahwa bangsa Indonesia yang dibentuk dari banyak suku yang berbeda pasti memiliki naluri kesukuannya masing-masing dan sulit untuk dipisahkan. Rasa memiliki suku dan bangsa yang kuat, dibarengi dengan fitrahnya sebagai manusia, membuat banyak orang rindu dengan kampung halamannya pada hari raya Idulfitri.

Hal itu yang membuat banyak orang ramai mudik atau pulang kampung. Semangat mudik ini sebenarnya juga menunjukkan cinta bangsa dan tanah air yang selalu bisa disaksikan saat Idul Fitri.

“Perayaan Idul Fitri juga memiliki arti iftar atau futur, yang artinya makan pagi atau sarapan. Kalau diartikan seperti itu, maka Idul Fitri artinya kembali makan pagi atau sarapan, setelah sebulan sebelumnya diwajibkan untuk berpuasa. Makanya, di hari lebaran atau Idul Fitri, haram hukumnya orang berpuasa,” kata dia.

Ia lantas menguraikan kewajiban zakat fitrah setelah berpuasa. Zakat fitrah adalah makanan pokok yang harus dikeluarkan atau dizakati. Hal ini dilakukan dengan harapan bahwa pada hari lebaran Idul Fitri, semua orang menikmati makanan pokok.

“Hanya saja jika dihidangkan dalam bentuk nasi kan itu sudah biasa kita saksikan sehari-hari. Makanya dikemas dalam bentuk ketupat, yang sebenarnya juga merupakan budaya atau kearifan lokal masyarakat Indonesia. Maka dari itu, sangat wajar jika hari Idulfitri diasosiasikan dengan lebaran ketupat,” katanya.

Dirinya mengatakan, dengan zakat fitrah yang dikeluarkan masing-masing umat Islam sebelum tanggal 1 Syawal, tidak ada orang yang tidak makan nasi atau beras yang dikemas dalam bentuk ketupat saat hari raya tiba.

Selain kembali bisa menikmati makanan pokok orang Indonesia dalam bentuk ketupat, ada nilai kebersamaan yang tersirat didalamnya. Saat Idul Fitri, tidak ada bedanya orang yang kaya dengan orang yang miskin, karena semuanya sama-sama menikmati makanan yang serupa, yakni ketupat.

Prof. Muammar Bakry pun menambahkan, bahwa lebaran ketupat adalah salah satu contoh Islam yang dibudayakan. Sebenarnya budaya ini juga merupakan serapan dari syiar Islam, bahwa ada puasa Syawal selama enam hari setelah perayaan Idul Fitri. Waktu enam hari yang sebenarnya dari puasa Syawal ini kemudian bercampur dengan kebiasaan masyarakat yang senang berkumpul dan makan-makan, jadilah budaya lebaran ketupat.

“Jika setelah lebaran ketupat lalu ada yang ingin melaksanakan puasa Syawal, itu silahkan saja. Yang jelas, memahami nilai-nilai agama tidak boleh secara sempit dan selalu menganggap bahwa budaya pasti berseberangan dengan syariat. Ini tidak boleh terjadi,” ujarnya mengakhiri.

Tags: Idul FitriKearifan LokalLebaran KetupatToleransi
Previous Post

Ratusan Senjata Rakitan Berhasil Dikumpulkan Korem Wira Sakti

Next Post

Modernisasi Alutsista, Marsekal Tonny Komitmen Perkuat Pertahanan Udara

BERITA TERKAIT

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono, mengajak 1.600 pelajar SMA se-Jabodetabek menjadi agen perdamaian dan pelopor perubahan di lingkungan sekolah dalam kegiatan Kemah Kebangsaan BP2M bertema “Pilar Kebangsaan: Merawat Kebhinnekaan di Tengah Perbedaan” di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (20/10/2026).

Melawan Arus Toksik Medsos, Resep ‘Prinsip 3T’ Kepala BNPT untuk Generasi Z Menjaga Kedamaian

21.10.2026
Rocky Gerung Watimpres

Ini Alasan Blak-blakan Rocky Gerung Masuk Istana

20.10.2026
Next Post
Marsekal Mohamad Tonny Harjono

Modernisasi Alutsista, Marsekal Tonny Komitmen Perkuat Pertahanan Udara

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Humas Tiran Nusantara Group, H. La Pili

Merasa Dokumen Lengkap, Tiran Group Angkat Bicara Soal Sidak Bupati Morowali di PT BIL

09.10.2026
Bupati Morowali, Iksan Baharudin Abdul Rauf saat berdiskusi dengan karyawan lapangan PT Bukit Indah Limonit (BIL)

Diduga Tak Punya Izin Reklamasi Laut, PT BIL Kena Mental Disidak Bupati Morowali

08.10.2026
Perwakilan Manajemen PT Askon Morowali, Alexander Lieman

PT Askon Morowali Sampaikan Permintaan Maaf, Buka Lembaran Baru Usai Ketegangan di Matarape

17.10.2026
Surat Bupati Morowali atas PT Askon di Desa Matarape

Gerak Cepat Pemkab Morowali, Bupati Iksan Jadwalkan Rapat Koordinasi Dampak Lingkungan PT ASKON di Desa Matarape

16.10.2026
Akun Instagram Jucardines menyebut Site Neraka di Morowali

Site Neraka di Bumi Morowali, Ketika Janji Kesejahteraan Tambang Berubah Menjadi Petaka Ekologis

Sekretaris Komisi III DPRD Sulawesi Tengah, Muhammad Safri

Rapor Merah Tambang Sulteng: 90 Persen Perusahaan Diduga ‘Kencingi’ Aturan Reklamasi Pascatambang

Presiden Prabowo Reshuffle Kabinet

Presiden Prabowo Lakukan Reshuffle Ke-8, Boyong Sembilan Wajah Baru ke Istana

Eks Sekda Sultra, Asrun Lio yang ditahan Kejaksaan Tinggi Sultra

Dari Meja Jamuan ke Balik Jeruji, Menguak Aliran Dana Rp4,2 Miliar dan Peran Eks Sekda Sultra Asrun Lio

Tingkatkan Daya Saing UMKM, BRI Hadirkan Program Racing Transaksi QRIS di Yogyakarta

Tingkatkan Daya Saing UMKM, BRI Hadirkan Program Racing Transaksi QRIS di Yogyakarta

21.10.2026
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono, mengajak 1.600 pelajar SMA se-Jabodetabek menjadi agen perdamaian dan pelopor perubahan di lingkungan sekolah dalam kegiatan Kemah Kebangsaan BP2M bertema “Pilar Kebangsaan: Merawat Kebhinnekaan di Tengah Perbedaan” di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (20/10/2026).

Melawan Arus Toksik Medsos, Resep ‘Prinsip 3T’ Kepala BNPT untuk Generasi Z Menjaga Kedamaian

21.10.2026
Penyerahan hibah gedung Kantor Koramil Bahodopi dari PT IMIP kepada Kodim 1311 Morowali

Perkuat Pengamanan Kawasan Industri, IMIP Serahkan Gedung Koramil kepada Kodim Morowali

21.10.2026
Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Pemprov Sultra, Abdul Rajab

Abdul Rajab Jadi Tersangka Korupsi Anggaran Mamin Sultra

20.10.2026
Garda Nasional

Penerbit PT Media Garda Utama

About

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Indeks
  • Kontak

Berita Terkini

  • Tingkatkan Daya Saing UMKM, BRI Hadirkan Program Racing Transaksi QRIS di Yogyakarta
  • Melawan Arus Toksik Medsos, Resep ‘Prinsip 3T’ Kepala BNPT untuk Generasi Z Menjaga Kedamaian
  • Perkuat Pengamanan Kawasan Industri, IMIP Serahkan Gedung Koramil kepada Kodim Morowali

Copyright © 2026 Garda Nasional All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Daerah
  • Internasional
  • Kabar Mabes
  • Persenjataan
  • Ragam

Copyright © 2026 Garda Nasional All Rights Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In