Garda Nasional
No Result
View All Result
Rabu, 21 Oktober, 2026
  • Login
  • Beranda
  • Nasional
  • Daerah
  • Internasional
  • Kabar Mabes
  • Persenjataan
  • Ragam
Subscribe
Garda Nasional
  • Beranda
  • Nasional
  • Daerah
  • Internasional
  • Kabar Mabes
  • Persenjataan
  • Ragam
No Result
View All Result
Garda Nasional
No Result
View All Result
Home Nasional

Mustagfirin, Eks Teroris yang Kini Memilih Mengurus Kebun dan Mengajar Ngaji

by Irfan Mualim
19.03.2024
in Nasional
A A
Mustagfirin, Eks Teroris yang Kini Memilih Mengurus Kebun dan Mengajar Ngaji

TARAKAN – Setiap orang memiliki masa lalu yang tidak bisa diubah, namun dapat diperbaiki menjadi lebih baik. Mungkin kalimat ini yang di pas untuk menggambarkan perjalanan hidup Mustagfirin, salah satu pentolan kelompok teroris eks Nordin M Top dan Dr. Azhari yang tergabung di dalam kelompok Jamaah Islamiyah (JI) yang terafiliasi dengan kelompok teror di Timur Tengah yakni Al-Qaeda.

Mustagfirin alias Jek seorang pria kelahiran Kudus 5 Oktober 1982 merupakan sosok eks terorisme kelompok Dr. Azhari dan Nordin M Top, kelompok paling dicari-cari di era 2000-an Indonesia lantaran beberapa aksi teror.

“TIDAK ada orang yang terlahir sebagai teroris tetapi semua orang bisa menjadi teroris,” sepenggal kalimat Mustagfirin (42) kepada ratusan siswa-siswi kala dirinya menjadi pembicara dalam sebuah agenda dialog kebangsaan di Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara), dikutip dari Radar Tarakan, Selasa (19/3/2024).

BACA JUGA

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono, mengajak 1.600 pelajar SMA se-Jabodetabek menjadi agen perdamaian dan pelopor perubahan di lingkungan sekolah dalam kegiatan Kemah Kebangsaan BP2M bertema “Pilar Kebangsaan: Merawat Kebhinnekaan di Tengah Perbedaan” di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (20/10/2026).

Melawan Arus Toksik Medsos, Resep ‘Prinsip 3T’ Kepala BNPT untuk Generasi Z Menjaga Kedamaian

21.10.2026
BNPT RI dan Kemenag bedah buku

Bedah 220 Buku ‘Berbahaya’, BNPT RI dan Kemenag Bongkar Rahasia di Balik Otak Pelaku Terorisme

12.10.2026

Setelah bebas dari masa tahanan, Mustagfirin kin menghabiskan waktunya bersama keluarga di Desa Tidung Pale Kecamatan Sesayap, Tana Tidung, Kalimantan Utara (Kaltara).

Kesehariannya disibukkan dengan mengurus kebun miliknya dan mengajar ngaji guna menyalurkan ilmu agamanya. Bahkan kerap diundang menjadi pembicara pada isu terorisme di Indonesia.

Sebagai eks teroris, ia selalu menekankan kepada generasi muda akan pentingnya memperdalam ilmu pengetahuan dalam mencegah paparan radikalisme di Indonesia.

Mengingat generasi muda belum memiliki pemikiran yang matang dan mudah terpengaruh, sehingga kerap menjadi sasaran empuk kelompok ekstrimis untuk meregenerasi kelompoknya.

Ia mengakui, sewaktu dirinya belum menjadi bagian dari kelompok teror, ia cukup senang meng-update bacaan dan berita tentang konflik yang berhubungan dengan agama, seperti peristiwa Ambon, Poso, konflik Moro di Filipina bahkan perang Chech-nya dan Rusia.

Selain itu, ia juga gemar mengikuti konfliknya di Timur Tengah, antara lain konflik di Irak, Afganistan, dan konflik Kasmir yang diyakini masih berhubungan dengan agama.

Kala itu, kata Mustagfirin, dirinya belum dapat berpikiran matang dan akhirnya hanyut pada kebencian dari mengonsumsi sajian internet, media massa dan buku kala itu. Di sisi lain, menaruh simpati besar kepada mujahid-mujahid di belahan dunia yang berdiri gagah dalam membela agama.

“Cikal bakal pemikiran radikal saya dari apa yang saya konsumsi baik dari internet, buku atau media massa yang saya tonton waktu itu. Padahal waktu itu, mengakses internet masih susah. Setelah itu timbul kejengkelan saya pada kaum tertentu. Di sisi lain, saya kagum dengan pejuang Islam baik di Indonesia atau pun di luar negeri. Tapi saya tidak punya pikiran sama sekali menjadi ekstrimis hanya sebatas kagum saja,” katanya.

“Seiring waktu berjalan, atas beberapa persoalan yang saya hadapi saya pun bergabung ke dalam satu kelompok teror yang kemudian hari menjadi kelompok teror yang paling dicari negara. Meski sejak awal saya tidak punya pikiran apalagi niat menjadi teroris, ini terjadi karena peristiwa perjalanan hidup,” sambungnya.

Meski tidak memungkiri selera tontonan dan bacaan yang ia gemari menjadi bibit radikal, namun terdapat sesuatu besar yang menjadi titik balik dirinya bergabung pada kelompok teror, yakni perundungan atau bullying dari teman-teman sekolahnya.

Perundungan yang kerap ia alami berupa bentuk pengucilan lantaran dianggap bagian dari kelompok teror, membuat ia muak dan akhirnya mengaminkan tuduhan tersebut. Bahkan, perundungan itu membuatnya berhenti melanjutkan sekolah yang akhirnya menghantarkan dirinya kembali bertemu dua orang sahabatnya yang merupakan bagian dari kelompok teror.

“Setelah teman saya menjadi DPO pengeboman Kadubes Australia, saya mendapat bully-an luar biasa dari sekolah. Saya dikucilkan, saya diolok-olok, sampai sempat dipanggil sama ustaz pondok diinterogasi kebenaran isu yang beredar di ponpes. Setelah itu, saya minta izin pamit dari pondok (berhenti). Karena jengkel, saya sempat berdoa semoga saya bisa dipertemukan dengan Nordin M Top. Setelah 4 bulan saya bertemu teman saya dan teman-teman saya mempertemukan saya bersama Nordin M Top,” katanya.

Dari perjalanan itulah, sehingga tidak henti-hentinya mengingatkan bahwa perundungan salah satu perlakuan berbahaya kepada orang lain apalagi di kalangan generasi muda.

“Perundungan yang kerap dianggap sederhana bisa saja berdampak besar pada hidup korban,” tegas dia.

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya berdoa yang baik agar jika doa tersebut dikabulkan maka akan berdampak baik bagi diri sendiri. Menurutnya, ucapan adalah doa yang bisa saja terjadi setelah kita mengucapkannya.

“Setelah peristiwa yang saya alami hingga hari ini saya belajar banyak bahwa mungkin hal kecil yang dianggap sepele bisa berdampak besar kepada orang lain. Memang ada banyak faktor yang membuat orang dapat menjadi teroris diantarnya konsumsi media, kurangnya ilmu, faktor ekonomi, broken home, belajar pada orang yang salah, dan mungkin bisa saja perundungan,” jelas dia.

Ia tak henti-hentinya mengingatkan upaya sederhana dalam mencegah paparan radikalisme yakni dengan membentengi diri dengan ilmu agama, berhati-hati dalam bermedsos, tidak mencari perbedaan melainkan mencari persamaan, selalu berjemaah (berkelompok) dalam mengerjakan sesuatu, selalu berhubungan dengan keluarga, dan selalu berdoa yang baik.

“Saya kira hal sederhana itu bisa berdampak besar untuk mencegah paparan radikalisme ke setiap orang. Pentingnya melakukan sesuatu bersama, karena kelompok teror yang mencari rekrutan biasanya cenderung mendekati seorang saat menyendiri. Dengan begitu, dia akan muda memasukan doktrin atau dogmanya dalam obrolan,” ujar dia.

“Kalau berkelompok itu agak sulit didekati untuk menyampaikan sesuatu. Karena kelompok teror ini sadar betul menjelaskan sesuatu kepada lebih dari 1 orang, maka hal itu akan sulit diterima oleh target. Ibarat seperti singa berburu, dia akan berlari disamping kelompok zebra, begitu ada satu zebra yang keluar dari rombongan, maka satu ekor yang akan difokuskan oleh singa untuk diterkam,” urainya.

Menurut dia, kelompok teroris tidak dapat dilihat dari penampilan, mereka cenderung random. Biasa saja, bahkan ada yang berpakaian modis gaya barat dan berbicara meyakinkan.

“Setelah mengobrol baru kita bisa tebak arahnya ke mana. Kalau yang kita lihat di TV selama ini itu hanya pimpinannya saja, gaya bersorban, berjenggot, celana tergantung, gaya agamis lah, tapi untuk yang di lapangan belum tentu seperti itu. Sebenarnya, tidak ada suatu ciri fisik yang bisa menandakan teroris itu sendiri,” jelasnya

Tags: MustagfirinNordin N TopTerorisTerorisme
Previous Post

Napi Terorisme ‘Terakhir’ di Lapas Sumedang Akhirnya Bebas

Next Post

Direktur Pencegahan BNPT RI: Media Massa, Berikan Pemahaman Benar dan Tepat Mengenai Isu Terorisme pada Masyarakat

BERITA TERKAIT

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono, mengajak 1.600 pelajar SMA se-Jabodetabek menjadi agen perdamaian dan pelopor perubahan di lingkungan sekolah dalam kegiatan Kemah Kebangsaan BP2M bertema “Pilar Kebangsaan: Merawat Kebhinnekaan di Tengah Perbedaan” di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (20/10/2026).

Melawan Arus Toksik Medsos, Resep ‘Prinsip 3T’ Kepala BNPT untuk Generasi Z Menjaga Kedamaian

21.10.2026
Rocky Gerung Watimpres

Ini Alasan Blak-blakan Rocky Gerung Masuk Istana

20.10.2026
Next Post
Direktur Pencegahan BNPT RI: Media Massa, Berikan Pemahaman Benar dan Tepat Mengenai Isu Terorisme pada Masyarakat

Direktur Pencegahan BNPT RI: Media Massa, Berikan Pemahaman Benar dan Tepat Mengenai Isu Terorisme pada Masyarakat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Humas Tiran Nusantara Group, H. La Pili

Merasa Dokumen Lengkap, Tiran Group Angkat Bicara Soal Sidak Bupati Morowali di PT BIL

09.10.2026
Bupati Morowali, Iksan Baharudin Abdul Rauf saat berdiskusi dengan karyawan lapangan PT Bukit Indah Limonit (BIL)

Diduga Tak Punya Izin Reklamasi Laut, PT BIL Kena Mental Disidak Bupati Morowali

08.10.2026
Perwakilan Manajemen PT Askon Morowali, Alexander Lieman

PT Askon Morowali Sampaikan Permintaan Maaf, Buka Lembaran Baru Usai Ketegangan di Matarape

17.10.2026
Surat Bupati Morowali atas PT Askon di Desa Matarape

Gerak Cepat Pemkab Morowali, Bupati Iksan Jadwalkan Rapat Koordinasi Dampak Lingkungan PT ASKON di Desa Matarape

16.10.2026
Akun Instagram Jucardines menyebut Site Neraka di Morowali

Site Neraka di Bumi Morowali, Ketika Janji Kesejahteraan Tambang Berubah Menjadi Petaka Ekologis

Sekretaris Komisi III DPRD Sulawesi Tengah, Muhammad Safri

Rapor Merah Tambang Sulteng: 90 Persen Perusahaan Diduga ‘Kencingi’ Aturan Reklamasi Pascatambang

Presiden Prabowo Reshuffle Kabinet

Presiden Prabowo Lakukan Reshuffle Ke-8, Boyong Sembilan Wajah Baru ke Istana

Eks Sekda Sultra, Asrun Lio yang ditahan Kejaksaan Tinggi Sultra

Dari Meja Jamuan ke Balik Jeruji, Menguak Aliran Dana Rp4,2 Miliar dan Peran Eks Sekda Sultra Asrun Lio

Mengenang Dedikasi Dr. T.R. Fahsul Falah sebagai Pj. Bupati Sinjai, Birokrat Merakyat

Mengenang Dedikasi Dr. T.R. Fahsul Falah sebagai Pj. Bupati Sinjai, Birokrat Merakyat

21.10.2026
Bupati Morowali, Iksan Baharudin Abdul Rauf, saat Membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Aparatur Desa dalam Pengelolaan Keuangan Desa yang Transparan dan Akuntabel di Hotel Jayakarta, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Dari Desa untuk Morowali, Bupati Iksan Ingatkan Aparatur Desa agar Tak Salah Kelola Uang Rakyat

21.10.2026
Tingkatkan Daya Saing UMKM, BRI Hadirkan Program Racing Transaksi QRIS di Yogyakarta

Tingkatkan Daya Saing UMKM, BRI Hadirkan Program Racing Transaksi QRIS di Yogyakarta

21.10.2026
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono, mengajak 1.600 pelajar SMA se-Jabodetabek menjadi agen perdamaian dan pelopor perubahan di lingkungan sekolah dalam kegiatan Kemah Kebangsaan BP2M bertema “Pilar Kebangsaan: Merawat Kebhinnekaan di Tengah Perbedaan” di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (20/10/2026).

Melawan Arus Toksik Medsos, Resep ‘Prinsip 3T’ Kepala BNPT untuk Generasi Z Menjaga Kedamaian

21.10.2026
Garda Nasional

Penerbit PT Media Garda Utama

About

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Indeks
  • Kontak

Berita Terkini

  • Mengenang Dedikasi Dr. T.R. Fahsul Falah sebagai Pj. Bupati Sinjai, Birokrat Merakyat
  • Dari Desa untuk Morowali, Bupati Iksan Ingatkan Aparatur Desa agar Tak Salah Kelola Uang Rakyat
  • Tingkatkan Daya Saing UMKM, BRI Hadirkan Program Racing Transaksi QRIS di Yogyakarta

Copyright © 2026 Garda Nasional All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Daerah
  • Internasional
  • Kabar Mabes
  • Persenjataan
  • Ragam

Copyright © 2026 Garda Nasional All Rights Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In