MOROWALI – Protes warga terhadap polusi debu tambang di perbatasan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara berujung ricuh besar. Aksi blokade jalan hauling menuju kawasan jetty PT Anugrah Sakti Konstruksi (Askon) oleh Aliansi Masyarakat Desa Matarape, Kecamatan Menui Kepulauan, Kabupaten Morowali, pecah menjadi bentrokan berdarah pada Jumat (2/10/2026) hingga Sabtu (3/10/2026).
Insiden ini mengakibatkan sedikitnya enam orang mengalami luka-luka, sejumlah kendaraan serta alat berat hancur terbakar, dan 75 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok dievakuasi ketat ke Mapolda Sulawesi Tengah.
Aksi massa ini merupakan puncak kekesalan warga Desa Matarape yang saban hari harus menghirup debu pekat beterbangan dari lalu lalang truk pengangkut material milik PT Askon. Polusi yang kian mengganggu kesehatan permukiman mendorong warga turun ke jalan dan memblokir lintasan hauling perusahaan.
Namun, situasi memanas ketika mediasi di lapangan tak menemui titik temu. Kericuhan pecah setelah aksi saling dorong berlanjut ke saling serang menggunakan kayu, besi, hingga senjata tajam.
Ketegangan kian memuncak saat dua kendaraan milik warga diduga dihantam ekskavator milik perusahaan, yang langsung dibalas massa dengan membakar lima unit mobil dan lima alat berat operasional.
Kapolres Morowali, AKBP Reza Khomeini, mengonfirmasi bentrokan tersebut menyebabkan enam korban luka-luka. Lima di antaranya merupakan warga lokal yang mengalami luka sabetan benda tajam di bagian tangan dan kaki, sementara satu korban lainnya merupakan pekerja WNA yang mengalami luka memar.
“Kami sudah menurunkan personel gabungan dari Polres Morowali serta Brimob Polda Sulteng (Sulawesi Tengah) dan Sultra (Sulawesi Tenggara) untuk mengamankan lokasi TKP. Saat ini situasi di lapangan sudah berhasil dikendalikan,” terang AKBP Reza Khomeini
Guna mengantisipasi amuk massa dan bentrokan susulan, aparat kepolisian mengambil langkah cepat dengan mengamankan dan menyeberangkan 75 WNA yang bekerja di PT Askon menuju Mapolda Sulteng di Palu.
Pihak Imigrasi bersama penyidik kepolisian saat ini tengah menginterogasi puluhan WNA tersebut untuk mendalami dugaan keterlibatan penyerangan maupun penggunaan senjata tajam saat bentrokan berlangsung.
“Untuk saat ini status 75 WNA tersebut masih sebagai saksi. Pemeriksaan dan pendalaman berkas serta bukti-bukti hukum masih terus berjalan,” tegas Kapolres.
Sektor operasional dan aktivitas jetty PT Askon di Matarape dilaporkan lumpuh total pasca kejadian.
Polisi mengimbau kedua belah pihak, baik warga maupun manajemen perusahaan, agar menahan diri dan menyerahkan seluruh proses hukum kepada kepolisian.















