Diduga Teroris, Pengrajin Sepatu di Magetan Diamankan Densus 88

Nasional818 Dilihat

MAGETAN – Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri mengamankan seorang perajin sepatu di Kelurahan Selosari, Kabupaten Magetan,Jawa Timur berinisial S (40 thn) di kediamannya.

Kasi Humas Polres Magetan, AKP Budi Kuncahyo, membenarkan informasi penangkapan S oleh Densus 88 karena diduga terlibat jaringan teroris. “Benar telah ada kegiatan satuan atas di Kabupaten Magetan terkait penangkapan satu orang yang terduga terafiliasi dengan jaringan teroris,” ujarnya di Magetan, Selasa (30/1/2024).

Budi Kuncahyo menambahkan, Polres Magetan hanya membantu pengamanan dalam kegiatan tersebut. “Terkait keterangan lebih lanjut nanti ada keterangan dari Densus 88. Kita hanya backup,” kata dia.

Salah seorang tetangga S bernama Sigit mengungkapkan, saat penangkapan itu terlihat banyak petugas dari kepolisian, TNI, dan pegawai kelurahan. 

“Kabar penangkapannya sudah menyebar di warga sekitar, tadi banyak yang membicarakan penangkapannya. Katanya diduga menjadi anggota teroris gitu,” ujarnya.

Sigit menambahkan, warga sekitar juga tidak curiga bahwa S terafiliasi dengan kelompok teroris. Keseharian S berperilaku normal, bahkan cenderung ramah. Selain itu, S tidak mengadakan kegiatan-kegiatan yang mengarah pada penyimpangan terhadap ideologi Pancasila.

“Setiap mengantar sekolah anaknya selalu melewati jalanan depan rumah saya ini mas. Kesehariannya ramah, sering menyapa warga sekitar. Namun pakaiannya berpakaian busana muslim setap harinya,” katanya.

Begitu juga dengan pengakuan Lilik, yang juga tetangga S, menjelaskan, rumah yang digerebek Densus 88 Antiteror itu dihuni oleh S bersama istri, dan lima anaknya. 

Namun pada Selasa (30/1/2024) siang, rumah tersebut nampak sepi tidak ada aktivitas di dalamnya. Sementara istri S berserta anaknya tidak diketahui keberadaannya.

Lilik menambahkan, terduga S setiap harinya bekerja di industri kulit di Jalan Sawo, Magetan. Ia dikenal rajin ke masjid dan mengikuti kegiatan keagamaan, serta berjiwa sosial tinggi pada lingkungan. 

Oleh karena itu,  Lilik mengaku tak menyangka bahwa S masuk jaringan teroris.

“Sehari-hari bekerja di industri kulit di Jalan Sawo, tidak ada kecurigaan gimana-gimana. S juga sering membantu warga sekitar,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *