MOROWALI – Pagi itu, riak gelombang di perairan Menui Kepulauan seolah menyambut riuh suara lantunan salawat dan tabuhan rebana. Kompleks Pasar Kelurahan Ulunambo yang biasanya dipenuhi riuk-pikuk aktivitas perdagangan, mendadak beruba menjadi lautan warna dan spirit kebersamaan. Ribuan mata terpukau menyaksikan meleburnya seluruh elemen masyarakat Morowali dalam satu momentum keagamaan yang hangat.
Secara resmi, Wakil Bupati Morowali, Iriane Iliyas, melepas barisan peserta Pawai Taaruf Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadis (MTQH) ke-XVI tingkat Kabupaten Morowali pada Minggu (11/10/2026).
Perhelatan tahunan yang membawa misi pembinaan spiritual ini menghadirkan kafilah lintas kecamatan—mencerminkan solidnya jalinan persaudaraan warga di Bumi Tepe Asa Moroso, meski harus menyeberangi lautan menuju wilayah kepulauan.
Pawai Taaruf ini bukan semata parade seremonial, melainkan etalase kebudayaan dan keagamaan yang menandai dibukanya seluruh rangkaian ajang MTQH ke-XVI.
“Atas nama Pemerintah Daerah, saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak, khususnya Pemerintah Kecamatan Menui Kepulauan beserta seluruh jajaran dan masyarakat yang telah memberikan sumbangsih pikiran dan tenaga sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan lancar,” ujarnya.
Pilihan lokasi pelaksanaan di Menui Kepulauan memberikan nilai tersendiri. Menembus batas geografis, partisipasi aktif kafilah dari wilayah daratan hingga kepulauan mempertegas bahwa syiar keagamaan menjadi jembatan perekat keharmonisan antarwilayah di Morowali.
Iriane menekankan, kedisiplinan dan kerapian peserta pawai Taaruf merupakan cermin dari kesiapan daerah dalam menggelar perhelatan yang aman, tertib, dan bernilai ibadah.
Di luar kemeriahan visual dan atraksi budaya, Pemkab Morowali menaruh harapan jangka panjang dari gelaran MTQH ke-XVI ini. Momentum keagamaan di pulau terluar Morowali ini ditujukan untuk membangun benteng karakter generasi muda di tengah pesatnya dinamika era digital.
Melalui MTQH XVI, masyarakat diajak tidak hanya mahir membaca dan memajang piala kemenangan, tetapi juga membumikan ajaran Al-Qur’an dan Hadis ke dalam interaksi sosial sehari-hari—menciptakan kedamaian, rasa saling merangkul, dan integritas moral yang kokoh bagi masa depan Morowali.














