Yudian Wahyudi, Kepala BPIP yang Sempat Buat Kebijakan Kontrovesi Soal Cadar

Nasional4 Dilihat

JAKARTA – Setelah Yudi Latif mengundurkan diri pada Juni 2018 lalu dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya menjatuhkan pilihanya kepada Yudian Wahyudi sebagai Kepala BPIP yang baru.

Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman, mengatakan Jokowi memiliki alasan tersendiri untuk memilih Yudian. “Selalu pertimbangannya adalah fungsi dari BPIP. Yaitu fungsi BPIP adalah pembinaan ideologi Pancasila,” ujarnya di Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Menurut Fadjroel, sang presiden melihat sosok Yudian sangat cocok menjalankan fungsi tersebut. Karena itu, Yudian yang saat ini menjabat Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, menggantikan Kepala BPIP sebelumnya yang dijabat pelaksana tugas (Plt), Hariyono.

“Yang bersangkutan dianggap sangat pantas, sangat sangat pantas untuk memimpin lembaga tersebut dalam upaya pembinaan ideologi Pancasila,” katanya.

Diketahui, Presiden Joko Widodo resmi melantik Yudian Wahyudi sebagai Kepala BPIP di Istana Negara, Jakarta. Ia menggantikan posisi Yudi Latif.

“Demi Allah saya bersumpah, bahwa saya akan setia dan taat UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya demi dharma bakti saya pada bangsa dan negara,” kata Yudian menirukan ucapan Jokowi saat pengambilan sumpah.

Siapa Yudian Wahyudi?

Yudian Wahyudi kini tercatat sebagai Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta periode 2016-2020. Dia adalah dosen pertama dari Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang berhasil menembus Harvard Law School di Amerika Serikat. Hal itu diperolehnya setelah menyelesaikan pendidikan doktor (PhD) di McGill University, Kanada. Bahkan sempat mengajar di Tufts University, Amerika Serikat.

Ia merupakan alumnus santri di Pondok Pesantren Termas, Pacitan, Jawa Timur. Karenanya, darah santri sangat melekat di tubuhnya. Bahkan Yudian mendirikan pesantren Nawesea, yaitu pesantren khusus bagi mahasiswa pascasarjana. Ia mengharapkan buku dan pesantrennya menjadi jalan untuk menuju kesuksesan di negeri Barat.

Dari berbagai karyanya, ia berhasil menerjemahkan sekitar 40 buku bahasa Arab, 13 bahasa Inggris, dan dua bahasa Prancis ke dalam bahasa Indonesia. Sebagaimana dalam buku perjalanan hidupnya berjudul Jihad Ilmiah.

Dalam buku Jihad Ilmiah, Yudian menitik beratkan pada sejarah. Dengan segmen, dosen PTAIN yang kuliah di Barat dan bisa menjadi pemimpin kelas dunia.

Perjalanan Yudian memang tak begitu mulus, pada 2018 silam, sempat mengeluarkan kebijakan kontroversi, yakni melarang mahasiswi UIN Sunan Kalijaga mengenakan cadar di lingkungan kampus. Bahkan mengancam akan mengeluarkan mahasiswi yang nekat menggunakan cadar jika sudah tujuh kali diperingatkan dan dibina.

Surat resmi pendataan mahasiswi yang bercadar yang dikeluarkan bernomor B-1031/Un.02/R/AK.00.3/02/2018. Setelah dilakukan pendataan, terdapat 41 mahasiswi yang menggunakan cadar.

Menurut Yudian saat itu, kampus yang dipimpinnya adalah universitas negeri. Karenanya, sebagai kampus negeri harus berdiri sesuai Islam yang moderat, dimana mengakui konsensus bersama yakni Undang-Undang Dasar 1945, Pancasila, kebhinnekaan, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun tak lama setelah kebijakan menuai kontroversi, ia lalu mencabut larangan penggunaan cadar bagi para mahasiswi di kampus. Hal tersebut dilakukan berdasarkan hasil Rapat Koordinasi Universitas (RKU) pada 10 Maret 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *