RIYADH – Langit Yaman dan Semenanjung Arabia kembali membara. Perang saudara yang sempat mereda kini meletus dalam eskalasi paling mengerikan sepanjang tahun ini. Hanya dalam hitungan jam, gelombang serangan udara masif yang diluncurkan Koalisi Pimpinan Arab Saudi berhasil meluluhlantakkan lebih dari seratus basis militer kelompok Houthi. Namun, pertempuran ini tak lagi sekadar gertakan—ia telah menjelma menjadi perang terbuka saling balas yang memakan korban jiwa di kedua belah pihak.
Eskalasi besar ini dipicu oleh manuver darat dan udara berskala besar yang diberi nama Operasi ‘Fajar Yaman’. Pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional—dengan sokongan penuh Koalisi Saudi—melancarkan gempuran tanpa henti sejak konflik kembali membara pada Juli lalu.
Juru Bicar Koalisi Saudi, Turki al-Maliki, mengonfirmasi armada udaranya terus memberikan pengawalan 24 jam nonstop bagi pasukan darat pemerintah untuk merebut kembali wilayah-wilayah strategis.
“Kami sedang melancarkan operasi berskala besar yang menargetkan personel dan kemampuan milisi teroris Houthi. Sebanyak 136 target militer di area yang dikuasai Houthi berhasil dihancurkan, termasuk upaya melumpuhkan jaringan rudal balistik mereka,” tegas Turki al-Maliki melalui pernyataan resminya, Sabtu (10/10/2026).
Gempuran udara ini menyasar sejumlah titik vital, termasuk kawasan Saada di wilayah barat laut Yaman serta area strategis sepanjang pesisir Laut Merah.
Laporan media lokal Yaman, Almasirah TV, mengabarkan fasilitas sekitar Bandara Sanaa juga tak luput dari gempuran yang menewaskan sedikitnya dua orang.
Pertempuran tidak berhenti di dalam garis batas Yaman. Kelompok Houthi yang mendapat dukungan dari Iran melancarkan balasan mematikan menggunakan kombinasi rudal balistik dan drone canggih.
Target serangan Houthi kini menyasar pusat transportasi, kilang minyak, hingga area sipil di dalam wilayah Arab Saudi. Momen paling mencekam terjadi saat serangan udara Houthi berhasil menembus benteng pertahanan dan menghantam kawasan Bandara Riyadh. Otoritas Saudi mengonfirmasi sedikitnya tiga orang tewas dalam insiden tragis tersebut.
Saling balas serangan ini menandai babak baru yang semakin mengkhawatirkan di kawasan Teluk. Jalur perdagangan di Laut Merah serta keamanan penerbangan sipil kini berada dalam ancaman nyata.
Bagi masyarakat awam di Yaman, kebangkitan konflik ini menjadi mimpi buruk berulang. Di tengah hancurnya fasilitas publik dan bayang-bayang korban jiwa yang terus berjatuhan, asa menuju perdamaian di tanah Yaman tampaknya makin menjauh dari kenyataan.

















