JAKARTA – Pemerintah Indonesia menegaskan kesiapannya untuk membangun fondasi pengembangan energi nuklir nasional. Langkah strategis ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi, mendukung pembangunan berkelanjutan, sekaligus mendorong transisi menuju sistem energi yang lebih rendah karbon.
Pesan tersebut disuarakan delegasi Indonesia dalam ajang IAEA International Ministerial Conference on Nuclear Power 2026 di Republik Korea. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyatakan keyakinannya nuklir mampu memberikan kontribusi berarti bagi masa depan energi nasional.
“Indonesia meyakini bahwa energi nuklir dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi ketahanan energi dan pembangunan berkelanjutan,” ujar Eniya, dikutip pada laman resmi ESDM, Rabu (4/11/2026).
Kendati demikian, pemerintah menyadari bahwa pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) bukan proyek yang sederhana. Proyek ini membutuhkan investasi besar, teknologi maju, tenaga kerja terampil, serta kelembagaan yang kuat.
Dalam mematangkan rencana tersebut, Indonesia memegang tiga agenda prioritas utama. Pertama, membangun ekosistem nuklir melalui penguatan sumber daya manusia, industri, pembiayaan, riset, inovasi, dan kerja sama internasional.
Kedua, belajar dari praktik terbaik negara lain, termasuk mengkaji reaktor skala besar maupun teknologi Small Modular Reactor (SMR) baik berbasis darat maupun terapung. Ketiga, memastikan pemanfaatan nuklir ditujukan sepenuhnya untuk tujuan damai dengan mengutamakan aspek keselamatan, keamanan, dan safeguards.
Meski telah memiliki pengalaman panjang dalam pengoperasian tiga reaktor riset di Pulau Jawa sejak 1965, pemerintah menekankan bahwa kesiapan pembangunan PLTN jauh lebih kompleks.
Penguatan dilakukan secara bertahap melalui empat fondasi utama—kelembagaan, infrastruktur, regulasi, dan sumber daya manusia—serta mengacu pada 19 isu infrastruktur nuklir IAEA Milestones Approach, termasuk proses pembentukan Nuclear Energy Programme Implementing Organization (NEPIO).
Kementerian ESDM memandang energi baru seperti nuklir sebagai bagian dari diversifikasi energi untuk melengkapi energi terbarukan.
Dengan demikian, program nuklir dipahami bukan sekadar mendirikan fisik pembangkit listrik, melainkan membangun ekosistem komprehensif yang terukur, transparan, dan melibatkan komunikasi publik yang baik.









