KUPANG — Mencegah penyebaran paham radikal tak melulu soal penindakan hukum di lapangan. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Densus 88 AT Polri memilih jalur kreatif melalui seni sinematik untuk memagari masyarakat dari ancaman intoleransi dan ekstremisme.
Awal November mendatang, Densus 88 wilayah NTT siap menggelar acara nonton bareng (nobar) sekaligus diskusi interaktif lewat film bertema kebangsaan berjudul Ageman.
Pendekatan lunak (soft approach) ini membidik masyarakat luas, khususnya anak muda, agar makin paham pentingnya merawat kerukunan di tengah keberagaman.
Kepala Satgaswil NTT Densus 88 AT Polri, Kombes Pol Sri Astuti Ningsih, mengatakan film Ageman dipilih karena punya pesan moral yang kuat tentang beragama secara inklusif dan damai.
Secara harfiah, kata Ageman berasal dari bahasa Jawa, Sunda, dan Bali yang bermakna pakaian, identitas, atau pedoman hidup.
“Melalui perjalanan hidup tokoh dalam film ini, kami berharap Ageman bisa jadi cermin jernih yang memberikan pemahaman mendalam bagi seluruh lapisan masyarakat,” ujar Sri Astuti dalam keterangan tertulisnya yang diterima gardanasional.co.id, Senin (5/10/2026).
Menariknya, alur cerita Ageman diangkat langsung dari rekam jejak nyata perjalanan hidup Ken Setiawan, seorang mantan aktivis kelompok radikal yang kini giat mengampanyekan moderasi beragama dan pencegahan terorisme di Indonesia.
Melalui layar lebar, penonton diajak melihat langsung lorong kelam radikalisme, bahaya perundungan (bullying), hingga pentingnya memegang teguh esensi ajaran agama yang menyejukkan.
Langkah ini juga diharapkan dapat memperkuat benteng toleransi di NTT, provinsi yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah paling rukun di Indonesia.
Acara yang dihelat bulan depan ini bakal melibatkan jajaran Forkopimda, tokoh lintas agama, akademisi, organisasi pemuda, hingga pelajar dan mahasiswa. Usai pemutaran film, bakal ada sesi diskusi panas untuk mengupas relevansi pesan film Ageman dengan kehidupan sosial di Bumi Flobamora.
















