JAKARTA – Kelompok terorisme kini tak lagi bersembunyi di ceruk dark web atau hanya menggelar pengajian tertutup di rumah aman.
Mereka mulai menyusup ke platform populer yang sehari-hari digandrungi anak muda, mulai dari TikTok, Instagram, hingga game online seperti Roblox.
Pengamat Terorisme sekaligus Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, mengungkapkan pemuda usia 20-an seperti para tersangka berusia 22 dan 26 tahun yang ditangkap Densus 88 baru-baru ini, menjadi target empuk karena berada dalam fase emerging adulthood (beranjak dewasa) yang penuh ketidakpastian.
“Para perekrut terorisme modern memanfaatkan kerentanan psikologis transisional ini. Mereka menggunakan strategi manipulasi digital yang personal dan bertahap,” kata Ken dalam keterangan tertulisnya, Senin (5/10/2026).
Pintu masuk awal (top of funnel) rekrutmen ini, memanfaatkan fitur obrolan teks maupun suara (chat & voice) bawaan di media sosial dan game online.
Dari interaksi kasual tersebut, calon korban secara perlahan ditarik ke dalam grup percakapan tertutup untuk proses indoktrinasi yang lebih intensif.
Menurut Ken, kecepatan penyebaran paham radikal lewat platform daring membuat calon anggota cepat terprovokasi, yang pada akhirnya meningkatkan risiko lahirnya aksi teror mandiri (lone wolf).
“Kalau kita diam saja, mereka akan merasa menang dan bergerak semakin masif di ruang virtual,” tegasnya.
















