LAMPUNG – Ada kehangatan tersendiri yang menyeruak di balik bilik-bilik pesantren di Lampung menjelang Hari Santri Nasional pada 22 Oktober mendatang. Di tengah lantunan bait-bait kitab kuning, para santri diajak sejenak menengok ke belakang, meresapi kembali jejak darah dan doa para pendahulu yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini.
Melalui Safari ‘Ngaji Kebangsaan’, Persatuan Guru Ngaji Indonesia (PGNI) Lampung turun langsung menyapa puluhan pondok pesantren dan madrasah di penjuru kabupaten dan kota. Bukan sekadar seremonial, momentum ini menjadi ruang benteng jiwa untuk memupuk kembali nilai-nilai moderasi dan nasionalisme di tengah derasnya arus zaman.
Namun, suasana diskusi menjadi kian bergetar ketika sebuah kenyataan pahit diungkapkan. Ketua PGNI Lampung, Ustadz Mas Amiruddin, tak mampu menyembunyikan keprihatinannya saat menceritakan bagaimana ajaran radikalisme sempat menyusup diam-diam ke dalam ruang-ruang kelas agama.
“Kami sungguh prihatin, ada santri dan guru ngaji di Lampung yang harus berurusan dengan Densus 88 karena terpapar jaringan terorisme. Bahkan, ada satu pesantren yang hampir seluruh penghuninya—sekitar 90 persen guru dan santri—terafiliasi kelompok radikal, walau kini bersyukur sudah dalam pembinaan intensif kepolisian,” ujarnya di Lampung, Selasa (7/10/2026).
“Hari Santri adalah momentum refleksi. Santri harus tetap menjadi garda terdepan dalam merawat kerukunan dan kedamaian bangsa,” tegas Amiruddin.
Fakta memilukan inilah yang mendorong PGNI Lampung menghadirkan sosok Ken Setiawan. Dipandu oleh moderator H. Amrullah Rofa’i dari Kanwil Kemenag Lampung, Ken, yang kini memimpin NII Crisis Center sekaligus menjabat Kabid Pemuda dan Pendidikan FKPT Lampung, hadir bukan sebagai penceramah biasa. Ia hadir sebagai saksi hidup.
Sebagai mantan penjelajah dunia kelam radikalisme yang kini telah kembali ke pangkuan NKRI, Ken membagikan rekam jejak kelamnya. Pengalaman pahit itu ia bedah di hadapan para santri untuk menunjukkan betapa mulianya nilai-nilai keislaman ketika berpadu selaras dengan Pancasila demi menjaga keutuhan bangsa.
Di samping dialog kebangsaan, refleksi sejarah, dan doa bersama untuk keselamatan negeri, ada satu momen yang tak kalah menyentuh hati. PGNI Lampung turut membagikan kacamata baca secara gratis khusus untuk para guru ngaji yang mulai terganggu penglihatannya.
Bagi para guru ngaji, kacamata tersebut bukan sekadar alat bantu visual, melainkan penyambung asa agar mereka bisa terus menuntun lembar demi lembar ayat suci kepada para generasi penerus dengan lebih nyaman.
“Semoga dengan kacamata ini, para guru ngaji yang mengalami hambatan penglihatan dapat kembali menjalankan aktivitas dakwah sehari-hari dengan lebih produktif dan gembira,” tutup Amiruddin penuh harap.














