PALU – Gelombang darurat kesehatan akibat gangguan pernapasan tengah menghantam Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Berdasarkan data komprehensif dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng, akumulasi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menembus angka fantastis sebanyak 266.760 kasus sepanjang periode Januari hingga September 2026.
Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan sekitar 20.500 kasus jika dibandingkan dengan rentang waktu yang sama pada tahun sebelumnya, di mana tercatat sebanyak 246.218 penderita.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sulteng, dr. Mohammad Ikbal, membeberkan eskalasi bulanan mulai terlihat melonjak drastis sejak memasuki bulan Mei 2026 yang melewati angka 30.000 kasus per bulan. Puncaknya terekam pada Juni 2026 dengan 34.678 penderita sebelum terus bertahan di kisaran angka tinggi pada bulan-bulan berikutnya.
“Kalau dibandingkan periode yang sama tahun lalu, jelas ada peningkatan. Sampai September 2025 tercatat 246.218 kasus, sedangkan sampai September 2026 mencapai 266.760 kasus,” ujar dr. Mohammad Ikbal.
Dari pemetaan wilayah yang dirilis oleh Dinas Kesehatan, Kabupaten Morowali kembali mencatatkan diri sebagai daerah dengan volume sebaran ISPA paling tinggi di Sulawesi Tengah.
Kawasan yang dikenal sebagai pusat aktivitas industri padat modal—terutama di titik-titik krusial seperti Kecamatan Bahodopi—secara konsisten menyumbang angka penderita terbanyak setiap tahunnya.
Berdasarkan perincian data, Morowali mencatat 63.028 kasus pada periode Januari–September 2025 dan tetap berada di angka masif 62.583 kasus pada rentang waktu yang sama di tahun 2026.
Sementara itu, wilayah perkotaan seperti Kota Palu menyusul dengan 35.979 kasus, diikuti oleh Kabupaten Poso yang mengalami eskalasi kenaikan dari 19.110 kasus menjadi 22.925 kasus.
Lonjakan masif ini memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat. Dinas Kesehatan Sulteng saat ini masih terus melakukan pendalaman data dan analisis epidemiologi secara mendalam guna memetakan faktor pemicu utamanya.
Selain faktor cuaca ekstrem yang kerap memicu fluktuasi kesehatan publik, variabel paparan polusi udara serta potensi dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang intens melanda sejak Agustus 2026 turut dicermati sebagai penyumbang perburukan kualitas udara.
“Secara klinis, anomali cuaca ekstrem serta penurunan kualitas udara sangat memicu gangguan saluran pernapasan. Kami perlu melihat laporan lanjutan untuk mengetahui sejauh mana faktor lingkungan mendominasi,” kata dr. Mohammad Ikbal.
Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan ini, Dinas Kesehatan gencar mengimbau masyarakat untuk kembali disiplin menerapkan protokol kesehatan sederhana namun krusial, yakni menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan sesuai dengan instruksi Gubernur Sulawesi Tengah.
Langkah mitigasi juga diperketat melalui jaringan puskesmas di berbagai daerah, mulai dari edukasi pencegahan hingga penyediaan layanan kesehatan cepat bagi warga yang datang dengan keluhan batuk dan pilek.
Di tengah laju pembangunan dan dinamika lingkungan saat ini, menjaga kualitas udara yang dihirup kini menjadi pertahanan utama demi keselamatan bersama.














