LAMPUNG – Langkah berani dan segar diambil oleh Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung bersama produser film Ageman, Ken Setiawan. Lewat sebuah nota kesepahaman (MoU) yang resmi diteken pada Rabu (14/10/2026), kedua pihak sepakat menjadikan seni sinema sebagai garda terdepan penangkal intoleransi di dunia pendidikan tinggi.
Edukasi moderasi beragama kini dituntut untuk keluar dari zona nyaman mimbar akademik yang kaku. Menyadari dominasi Gen Z dan kaum milenial di ruang digital serta seni pop, kolaborasi ini membawa angin segar dalam cara menyampaikan pesan-pesan perdamaian.
Rektor UIN Raden Intan Lampung yang diwakili oleh Prof. Faizal menekankan, pendekatan kreatif jauh lebih membumi untuk merasuk ke dalam kesadaran generasi muda.
“Edukasi moderasi beragama tidak cukup hanya disampaikan melalui mimbar akademik atau kuliah formal. Melalui seni film, pesan-pesan perdamaian dan toleransi dapat meresap lebih dalam ke dalam sanubari mahasiswa dan masyarakat luas,” ujar Prof. Faizal, di Lampung, Kamis (15/10/2026).
Di sisi lain, Ken Setiawan—yang juga memegang amanah sebagai Kepala Bidang Pemuda dan Pendidikan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung—melihat film bukan sekadar media hiburan. Baginya, film adalah cermin reflektif agar penonton sadar betapa berbahayanya bibit-bibit radikalisme.
“Istilah ‘Ageman’—yang berarti pakaian atau pegangan hidup—kami pilih sebagai simbol bahwa agama dan nilai kebangsaan harusnya menjadi selimut yang menyejukkan dan melindungi, bukan malah dijadikan atribut kedok untuk memecah belah,” Ken Setiawan, Produser Film Ageman.
Dari Layar Lebar ke Ruang Diskusi Kampus
Penandatanganan MoU ini bukanlah seremoni di atas kertas belaka. Agenda langsung diisi dengan bedah film dan diskusi interaktif yang memantik antusiasme luar biasa dari civitas akademika FDIK UIN Raden Intan.
Para mahasiswa diajak mengupas tuntas dapur pacu pembuatan film—mulai dari riset mendalam di balik naskah, proses kreatif penyusunan karakter, hingga strategi membungkus isu sensitif agar tetap renyah dinikmati tanpa kehilangan bobot moralnya.
Melalui sesi ini, mahasiswa diposisikan bukan sekadar penonton pasif, melainkan agen perubahan yang paham betul bagaimana seni merajut kembali tenun kebangsaan yang mulai koyak.
Ke depan, sinergi ini akan berlanjut dalam bentuk rangkaian roadshow pemutaran film, diskusi publik, hingga workshop kebangsaan.
Kolaborasi antara dunia sinema independen dan institusi pendidikan Islam ini digadang-gadang bakal menjadi model percontohan nasional dalam mengampanyekan moderasi beragama secara berkelanjutan.















Comments 1