JAKARTA – Tren anyar kelompok teror yang berkonsolidasi secara daring ternyata tidak menghilangkan ancaman nyata di dunia fisik. Meski rapat dan indoktrinasi dilakukan via layar monitor, aktivitas fisik seperti latihan ketangkasan dan menembak tetap dijalankan secara luring (offline).
Pengamat Terorisme yang juga Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, menjelaskan jaringan terorisme saat ini menerapkan strategi hibrida.
Transisi dari ruang virtual ke interaksi fisik dilakukan dengan tingkat penyaringan (screening) yang sangat ketat, agar tidak menimbulkan kecurigaan warga sekitar.
“Halaqah fisik zaman dahulu unggul dalam membentuk kualitas militansi dan kerahasiaan. Sementara pertemuan virtual saat ini unggul dalam kuantitas dan kecepatan akselerasi,” jelas Ken dalam keterangan tertulisnya yang diterima gardanasional.co.id, Selasa (6/10/2026).
Penggabungan dua pola ini dinilai berbahaya, karena teori dan doktrin dipaparkan secara cepat di dunia maya, lalu dipraktikkan langsung di lapangan.
Untuk membendung ancaman ini dari hulu, Ken menekankan pentingnya benteng pertahanan di tingkat keluarga.
Menurut dia, rendahnya literasi digital masyarakat membuat narasi propaganda dan provokasi radikal mudah ditelan bulat-bulat.
“Langkah paling krusial adalah membangun komunikasi dua arah yang empatik di rumah serta meningkatkan literasi digital kritis. Keluarga harus peka terhadap perubahan perilaku anak muda saat berinteraksi di dunia maya,” katanya.
















