MOROWALI – Industri nikel di Morowali, Sulawesi Tengah, menghadapi tekanan yang kian kompleks. Sejumlah produsen besar asal Cina dikabarkan mempertimbangkan pemangkasan produksi bahan baku baterai hingga 50 persen, dan bahan baku baja nirkarat sekitar 20 persen. Harga nikel yang melemah, kenaikan biaya operasional, serta keterbatasan pasokan bahan pendukung menjadi tantangan yang harus dihadapi industri.
Rencana pengurangan produksi tersebut menandai tekanan yang sedang dihadapi industri pengolahan nikel di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Kawasan industri yang menjadi salah satu pusat pengolahan nikel penting di Indonesia itu, kini berhadapan dengan persoalan harga, biaya produksi, dan dinamika pasokan bahan baku.
Dikutip IDNFinancials, Minggu (25/10/2026), sejumlah produsen nikel yang terafiliasi dengan perusahaan Cina, tengah mempertimbangkan pengurangan produksi di tengah kondisi pasar yang kurang menguntungkan.
Mengutip laporan MiningWeekly, rencana tersebut mencakup pengurangan produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) hingga 50 persen dan nickel pig iron (NPI) sekitar 20 persen.
Meski demikian, angka tersebut belum dapat dianggap sebagai keputusan final. Besaran pengurangan dan jangka waktu pelaksanaannya masih belum dipastikan.
Sejumlah perusahaan yang disebut dalam laporan itu antara lain Tsingshan Group, Huayou Cobalt, CNGR Advanced Material, Lygend Resources, dan GEM. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki kepentingan dalam industri pengolahan nikel dan material turunannya di Indonesia.
Harga nikel di London Metal Exchange (LME) dilaporkan turun hampir 25 persen dari puncak tahun ini, sekitar US$20.000 per ton, menjadi US$15.070 per ton pada pekan sebelumnya.
Pada saat yang sama, produsen menghadapi kenaikan biaya operasional, termasuk akibat kelangkaan sulfur yang dibutuhkan dalam proses pengolahan tertentu.
Pengetatan kuota penambangan bijih nikel di Indonesia juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perhitungan biaya dan pasokan.
Kondisi tersebut membuat perusahaan harus menimbang kembali tingkat produksi agar kegiatan usaha tetap berjalan secara ekonomis.
Direktur Pelaksana Nickel Industries, Justin Werner, mengatakan pengurangan produksi akan dilakukan secara terkoordinasi di berbagai operasi dalam kawasan IMIP. Ia tidak menyebutkan persentase pengurangan secara keseluruhan.
Menurut Werner, produsen yang tidak memiliki rantai usaha terintegrasi berpotensi merasakan dampak lebih besar.
Nickel Industries sendiri telah menurunkan produksi NPI di Indonesia menjadi sekitar 75 persen dari kapasitas pada Oktober 2026.
Perusahaan itu juga menunda peningkatan produksi penuh pada proyek nikel dan kobalt lainnya akibat minimnya curah hujan yang dikaitkan dengan fenomena El Nino.
Sebelumnya, pada September 2026, IMIP juga mengonfirmasi kepada Reuters, kekurangan air telah memaksa sejumlah smelter mengurangi produksi NPI. Saat itu, perusahaan menyatakan belum menerima angka pasti mengenai besaran pengurangan dari para penyewa kawasan.
Head of Media Relations IMIP, Dedy Kurniawan, menyebut penyesuaian tersebut belum menyebabkan penghentian operasi smelter ataupun pengurangan tenaga kerja.











