MOROWALI – Harga spot bijih nikel Indonesia kembali melemah pada pekan terakhir Oktober 2026. Penurunan paling dalam terjadi pada bijih saprolit berkadar 1,6% Ni yang turun US$6,3 per ton metrik basah atau wet metric ton (wmt), di tengah tekanan harga acuan dan laporan berkurangnya aktivitas sejumlah lini smelter di Morowali.
Data Shanghai Metals Market (SMM) yang dikutip Media Nikel Indonesia Rabu (28/10/2026), menunjukkan harga rata-rata bijih saprolit berkadar 1,6% Ni turun dari US$63,4 menjadi US$57,1 per wmt.
Penurunan juga terjadi pada saprolit berkadar 1,5% Ni, dari US$58,5 menjadi US$52,5 per wmt. Sementara itu, saprolit berkadar 1,4% Ni turun dari US$51,8 menjadi US$47,1 per wmt.
Berbeda dengan saprolit, penurunan harga limonit relatif lebih kecil. Bijih limonit berkadar 1,2% Ni turun US$1 menjadi US$25,5 per wmt, sedangkan kadar 1,3% Ni turun menjadi US$27,5 per wmt.
Perbedaan penurunan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan harga pada pekan ini lebih besar terjadi pada kelompok saprolit berkadar menengah hingga tinggi.
Harga Acuan Pemerintah Ikut Turun
Tekanan pasar juga terjadi ketika pemerintah menurunkan Harga Mineral Acuan (HMA) nikel untuk periode kedua Oktober 2026.
Berdasarkan keputusan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), HMA nikel ditetapkan sebesar US$15.847,67, turun dari US$16.322,67 pada periode pertama Oktober. Penurunan nominalnya mencapai US$475 atau sekitar 2,91%.
Penyesuaian HMA tersebut diikuti perubahan Harga Patokan Mineral (HPM) bijih nikel berdasarkan kadar kandungan nikel.
HPM periode kedua Oktober tercatat sebesar US$22,76 per wmt untuk kadar 1,1% Ni, US$25,33 untuk kadar 1,2% Ni, US$45,83 untuk kadar 1,3% Ni, dan US$50,05 untuk kadar 1,4% Ni.
Untuk kadar yang lebih tinggi, HPM ditetapkan sebesar US$54,48 per wmt untuk kadar 1,5% Ni, US$59,12 untuk kadar 1,6% Ni, US$63,69 untuk kadar 1,7% Ni, serta US$69 untuk kadar 1,8% Ni.
HMA dan HPM memiliki fungsi berbeda dari harga spot yang dipantau pasar. Karena itu, penurunan harga acuan pemerintah tidak serta-merta berarti setiap transaksi bijih nikel berlangsung pada harga yang sama. Harga transaksi tetap perlu dilihat berdasarkan ketentuan yang berlaku, kadar bijih, kualitas, serta isi kontrak antara pihak yang bertransaksi.
Operasional Smelter di Morowali Menjadi Perhatian
Selain perubahan harga acuan dan kondisi pasokan, laporan SMM juga menyoroti persoalan ketersediaan air yang memengaruhi operasional sejumlah smelter di kawasan industri nikel Morowali.
Dalam laporan pasar pada 24 September 2026, SMM menyebut sejumlah lini produksi RKEF mengalami pengurangan operasi akibat keterbatasan air yang dikaitkan dengan kondisi kering berkepanjangan. Sebagian lini dilaporkan beroperasi pada kisaran 30–40% dari tingkat normalnya.
RKEF atau rotary kiln electric furnace merupakan teknologi pengolahan yang digunakan untuk memproduksi nikel, termasuk nickel pig iron (NPI).
Pengurangan operasi smelter berpotensi mengurangi kebutuhan bijih sebagai bahan baku. Jika kebutuhan pembelian turun ketika persediaan bahan baku masih mencukupi, tekanan terhadap harga spot dapat meningkat.
Namun, angka pengurangan operasi yang dilaporkan pada September tersebut tidak dapat langsung dianggap menggambarkan kondisi seluruh fasilitas pengolahan di Morowali pada akhir Oktober. Perkembangan terbaru masih perlu dikonfirmasi kepada pengelola kawasan industri dan perusahaan yang terdampak.
Pasokan dan Permintaan Menentukan Arah Harga
SMM menilai persediaan bahan baku di smelter yang masih memadai serta penyesuaian kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan, turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca pergerakan harga.
Apabila pasokan dari tambang bertambah sementara pembelian smelter masih terbatas, harga spot berpotensi menghadapi tekanan lanjutan. Sebaliknya, pemulihan operasional smelter dan meningkatnya kebutuhan bahan baku dapat mengubah keseimbangan pasar.
Bagi perusahaan pertambangan, kondisi ini membuat perkembangan harga acuan, harga transaksi aktual, dan kepastian serapan bijih menjadi penting untuk dipantau secara bersamaan.
Di Morowali, persoalan tersebut juga berkaitan dengan keberlangsungan kegiatan pertambangan dan industri pengolahan yang saling terhubung.
Meski demikian, dampak terhadap pendapatan perusahaan, tenaga kerja, maupun kontraktor lokal belum dapat disimpulkan hanya dari penurunan harga spot.
Besarnya dampak akan bergantung pada volume penjualan, struktur biaya, kadar bijih, kontrak penjualan, serta kondisi operasional masing-masing perusahaan.
Dengan harga spot yang melemah dan sejumlah faktor pasar masih menekan permintaan, perkembangan operasional smelter dan realisasi pasokan bijih akan menjadi penentu penting bagi arah pasar nikel Indonesia dalam jangka pendek.















Comments 1