MOROWALI – Forum Rakyat Bersatu Morowali (FORBES Morowali) menyoroti sejumlah persoalan terkait aktivitas investasi PT Vale Indonesia melalui Indonesia Growth Project (IGP) Morowali, Sulawesi Tengah. Sorotan tersebut meliputi pemberdayaan tenaga kerja lokal, keterlibatan pengusaha daerah, hingga penyelesaian persoalan lahan antara perusahaan dan masyarakat.
Ketua Umum FORBES Morowali, Abd. Jamil yang akrab disapa Bang Hanto, menilai investasi berskala besar di Kabupaten Morowali semestinya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Menurutnya, keberadaan investasi tidak seharusnya hanya berorientasi pada kepentingan produksi dan keuntungan perusahaan. Peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal juga perlu menjadi bagian dari pelaksanaan investasi.
Dalam aspek ketenagakerjaan, FORBES mendorong perusahaan memberikan ruang dan prioritas yang proporsional kepada tenaga kerja lokal, khususnya masyarakat Morowali yang memiliki kompetensi serta memenuhi kualifikasi pekerjaan yang dibutuhkan.
Selain tenaga kerja, keterlibatan pengusaha lokal dalam rantai pasok perusahaan juga menjadi perhatian. FORBES berharap perusahaan membuka akses kemitraan dan peluang usaha secara transparan, adil, serta berkelanjutan bagi pelaku usaha daerah.
Sorotan lainnya berkaitan dengan persoalan lahan yang menurut FORBES masih membutuhkan penyelesaian antara perusahaan dan masyarakat.
Bang Hanto menilai persoalan tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Ia meminta perusahaan mengedepankan dialog terbuka, transparansi, serta penyelesaian yang menghormati hak-hak masyarakat sesuai ketentuan hukum.
“Jangan sampai keberadaan investasi yang seharusnya menjadi motor penggerak pembangunan daerah justru menyisakan persoalan sosial di tengah masyarakat. Kami ingin perusahaan hadir dengan komitmen nyata terhadap pemberdayaan masyarakat lokal, bukan sekadar menjalankan aktivitas investasi,” tegas Abd. Jamil di Morowali, Selasa (3/11/2026).
FORBES Morowali meminta manajemen PT Vale IGP Morowali lebih terbuka dalam membangun komunikasi dengan masyarakat, pemerintah daerah, dan elemen masyarakat sipil.
Organisasi tersebut mendorong evaluasi terhadap pelaksanaan program pemberdayaan tenaga kerja, keterlibatan pengusaha lokal, serta penyelesaian persoalan lahan agar menjadi agenda prioritas perusahaan.
Sorotan mengenai kesempatan kerja dan pemberdayaan pengusaha lokal, sebelumnya juga pernah menjadi bagian dari dialog antara masyarakat, pemerintah daerah, dan PT Vale.
Dalam mediasi yang berlangsung pada 13 Oktober 2025 di Kantor Blok Morowali, Desa Bahomotefe, Pemkab Morowali mencatat adanya 13 poin kesepakatan. Di antaranya penerimaan tenaga kerja lokal sebesar 70 persen dan nonlokal 30 persen, serta pemberdayaan pengusaha lokal di 13 desa binaan.
Kesepakatan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam melihat perkembangan hubungan perusahaan dengan masyarakat lingkar tambang. Namun, realisasi dan perkembangan pelaksanaannya perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada pihak-pihak terkait.
Sebagai elemen masyarakat sipil, FORBES Morowali menyatakan akan terus mengawal persoalan tersebut secara konstruktif, kritis, dan bertanggung jawab.
Bang Hanto menegaskan, sikap kritis yang disampaikan organisasinya bukan bertujuan menghambat investasi, melainkan mendorong agar kegiatan investasi di Morowali berjalan secara berkeadilan, menghormati hak masyarakat, dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.
Hingga berita ini disusun, tanggapan resmi manajemen PT Vale Indonesia terkait sorotan FORBES Morowali belum diperoleh. Ruang klarifikasi dan penjelasan perusahaan tetap terbuka untuk melengkapi pemberitaan ini.









