CIJULANG – Ada pemandangan yang tak biasa di Lapangan Taruna Cijulang, Pangandaran. Di tengah gemerlap lampu panggung dan aroma jajanan UMKM lokal, Panglima TNI, Jenderal TNI Agus Subiyanto tampak duduk bersila menikmati alunan gamelan Sunda, melebur tanpa jarak bersama ribuan warga yang tumpah ruah demi menyaksikan kepiawaian Ki Dalang Anom Kiki Mardani. Bukan sekadar nonton wayang, malam itu menjadi panggung nyata bagaimana seorang jenderal bintang empat memilih jalur budaya untuk merajut asa dan memperkuat pertahanan hati rakyatnya.
Akhir pekan kemarin, tepatnya pada Minggu (11/10/2026), Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, mendadak berubah menjadi pusat perhatian. Alih-alih menggelar rapat tertutup atau pengamanan super kaku, Jenderal TNI Agus Subiyanto justru memilih merayakan kehangatan bersama masyarakat lewat pagelaran seni tradisi Wayang Golek.
Langkah ini membuktikan bahwa pendekatan teritorial modern tidak selalu melulu soal taktik militer di medan latihan. Lewat seni, sekat antara aparat penegak kedaulatan negara dan masyarakat sipil runtuh seketika.
Ribuan warga dari berbagai wilayah—mulai dari Pangandaran, Cijulang, Tasikmalaya, hingga Garut—berdatangan untuk menyaksikan langsung aksi panggung Ki Dalang Anom Kiki Mardani yang sarat akan pesan moral dan hiburan segar.
“Hatur nuhun doanya untuk TNI yang ada di wilayah-wilayah dan mudah-mudahan bisa bekerja sama dengan masyarakat di wilayah Pangandaran, Cijulang, Tasik, Garut,” kata Jenderal TNI Agus Subiyanto.
Kehadiran orang nomor satu di tubuh TNI ini tidak hanya membawa misi pelestarian budaya leluhur. Di sekeliling arena pertunjukan, denyut nadi perekonomian lokal berdenyut kencang berkat adanya pameran UMKM khas daerah. Para pelaku usaha kecil, pengrajin lokal, hingga pedagang kuliner malam mendapati lapak mereka diserbu pengunjung yang antusias.
Suasana kian meriah tatkala grup musik kreatif Ega Robot Percussion mengambil alih panggung dengan tabuhan ritmis yang memadukan unsur tradisional dan modern, ditutup secara spektakuler dengan letusan kembang api yang membelah langit malam Cijulang. Kombinasi antara seni pedalangan, pemberdayaan ekonomi kerakyatan, dan hiburan massal ini menciptakan atmosfer keakraban yang langka.
Bagi dunia militer siber dan pengamat kebijakan publik, strategi kultural yang dimainkan oleh Panglima TNI ini dinilai sangat efektif. Dalam teori pertahanan semesta, kekuatan militer yang tangguh tidak akan pernah berdiri kokoh tanpa dukungan penuh dari rakyat (total people’s defense).
Dengan turun langsung merawat kearifan lokal, TNI mengirimkan sinyal kuat bahwa institusi pertahanan tidak hanya hadir saat negara berada dalam ancaman fisik semata, melainkan selalu ada di barisan depan untuk membersamai denyut kehidupan sehari-hari masyarakat—mulai dari menjaga keamanan wilayah hingga menggerakkan roda ekonomi kerakyatan di daerah-daerah penyangga.
















