MOROWALI – Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran dan Hadis (MTQH) XVI Kabupaten Morowali, Kamis (15/10/2026) tingkat Kabupaten Morowali di Kecamatan Menui Kepulauan menyisakan cerita mendalam yang jarang terekspos oleh media arus utama. Bukan sekadar seremoni penutupan ajang perlombaan tahunan, momentum ini berubah menjadi panggung permenungan moral bagi ribuan masyarakat pesisir dan jajaran birokrasi yang hadir.
Di hadapan para kafilah dari berbagai sudut kecamatan, Bupati Morowali, Iksan Baharudin Abdul Rauf menyoroti realitas sosial-religius yang ia temukan selama blusukan langsung ke pelosok-pelosok Morowali.
Bagi Iksan, menjamurnya pesantren dan tempat-tempat pengaji tradisional di tengah tantangan geografis kabupaten kaya nikel ini adalah benteng utama pertahanan moral generasi muda di era disrupsi.
“Bapak bayangkan, saya berada di Kabupaten Morowali ini, saya berjalan-jalan di setiap sudut kecamatan. Banyaknya pesantren-pesantren kita, banyaknya tempat-tempat mengaji, itu menandakan bagian ini yang betul-betul menjadi perhatian khusus bagi pemerintah untuk diperhatikan demi generasi ke depan,” ujar Iksan Baharudin Abdul Rauf saat menutup MTQH XVI Morowali di Kepulauan Menui, Kamis (15/10/2026).
Salah satu pemandangan paling emosional yang mencuri perhatian publik dalam MTQH kali ini adalah keikutsertaan peserta dari kalangan tunanetra. Tanpa penglihatan normal, mereka melantunkan ayat suci dengan penuh penghayatan, memecah keheningan malam dan memancing keharuan para penonton yang memadati arena utama.

Bagi sang bupati, kehadiran para kafilah tunanetra tersebut mematahkan segala bentuk alasan bagi masyarakat yang berbadan sehat untuk mengabaikan interaksi harian dengan kitab suci.
“Pada malam hari MTQH yang ada di Menui Kepulauan, saya ingin Al-Qur’an selalu dibaca, tidak hanya dihafal untuk lomba saja. Al-Qur’an tidak hanya diberikan kepada orang yang sehat saja. Kita lihat hari ini di pertandingan MTQH, ada anak-anak kita yang bisa bertarung melombakan membaca Al-Qur’an, contoh saudara-saudara kita yang tunanetra. Artinya, Al-Qur’an ini bisa tumbuh di setiap sudut sanubari semua insan yang beragama Islam,” kata Iksan.
Proyeksi Kebijakan Keagamaan Berkelanjutan
Pemerintah Kabupaten Morowali kini dihadapkan pada mandat besar, bagaimana mengubah euforia kompetisi keagamaan menjadi kebijakan afirmatif jangka panjang.
Dengan pertumbuhan kawasan industri yang masif di Morowali—yang sering kali membawa pergeseran nilai sosial dan budaya—keberadaan lembaga pendidikan Al-Qur’an dipandang sebagai jangkar identitas lokal.
Iksan menegaskan, dukungan terhadap lembaga pengajian dan pesantren di pelosok kecamatan tidak boleh bersifat musiman.
Pemerintah daerah berkomitmen untuk merumuskan skema pengawasan dan sokongan anggaran yang lebih merata, memastikan bahwa denyut syiar Islam tidak hanya berpusat di ibu kota kabupaten, tetapi juga menyala terang hingga pulau-pulau terluar seperti Menui Kepulauan.
MTQH ke-XVI ini pun resmi ditutup, meninggalkan pekerjaan rumah sekaligus harapan besar bagi masyarakat Morowali, agar lembaran-lembaran Al-Qur’an tidak berhenti pada riuhnya tepuk tangan panggung juri, melainkan meresap kokoh dalam fondasi mental generasi masa depan.














