KENDARI – Ada yang tidak beres dari balik tembok gedung wakil rakyat di Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra). Kasus dugaan penyimpangan pengadaan barang dan jasa pada Sekretariat DPRD Konut Tahun Anggaran 2024–2025 kini resmi naik tensi.
Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara tidak main-main. Langkah penyidik makin agresif, dan publik mulai bertanya-tanya, seberapa jauh praktik ini berlangsung dan siapa saja yang terseret?
Penyidik Subdit Tipidkor Ditreskrimsus Polda Sultra kini menggandeng Inspektorat Provinsi Sultra untuk mengaudit besaran potensi kerugian negara. Audit resmi ini menjadi koin krusial untuk menentukan apakah aroma tak sedap dalam proses pengadaan tersebut sah secara hukum memenuhi unsur pidana korupsi.
Kasubdit Tipidkor Ditreskrimsus Polda Sultra, AKBP Niko Darutama, menegaskan audit tersebut kini sedang digodok. “Inspektorat,” ujar Niko singkat namun tegas saat dikonfirmasi, mengaitkan penanganan perkara pada lembaga pengawas internal Pemprov Sultra itu, di Kendari, Jumat (9/10/2026).
Proses penyidikan tak sebatas mengolah data di atas kertas. Tiga figur penting yang diduga tahu persis seluk-beluk dapur pengadaan di Setwan Konut dikabarkan sudah dipanggil dan diperiksa secara maraton.
Ketiga nama tersebut yakni Siharto K. Panto (mantan Sekretaris DPRD Konut), Ratno (mantan bendahara Sekretariat DPRD Konut), dan Naim (mantan pejabat pengadaan)
Mereka bertiga telah menghadap penyidik di Kendari untuk mengklarifikasi alur transaksi, penunjukan pihak ketiga, hingga administrasi pencairan dana pengadaan barang dan jasa sepanjang TA 2024–2025.
“Sudah pernah datang diambil keterangan,” kata Niko Darutama.
Pengusutan perkara dipastikan tidak berhenti di dalam ruangan pemeriksaan Markas Polda Sultra di Kendari. Penyidik menjadwalkan bakal langsung turun lapangan menyisir gedung DPRD di Bumi Oheo, Konawe Utara.
Operasi lapangan ini bertujuan melakukan pengumpulan berkas tambahan, pengecekan fisik atas barang/jasa yang diadakan, hingga penggalian keterangan dari saksi-saksi kunci lainnya di tingkat daerah.
“Rencana penyidik langsung mau ke Konut, tapi masih diagendakan,” tegas Niko.















