JAKARTA – Era slogan ‘Presisi’ yang selama beberapa tahun terakhir menghiasi markas-markas kepolisian di seluruh Indonesia resmi usai. Di bawah nakhoda anyar Kapolri, Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, Korps Bhayangkara mantap mengusung doktrin dan tagline baru ‘Polisi Bersama Masyarakat’.
Langkah ini bukan sekadar urusan ganti plang atau ubah spanduk di kantor polisi. Di balik perubahan nama tersebut, tersimpan komitmen besar untuk meruntuhkan sekat dan jarak yang selama ini kerap dirasakan antara korps baju cokelat dan warga biasa.
Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Johnny Eddizon Isir mengatakan, tagline baru ini dirancang untuk mengubah budaya kerja di seluruh tingkatan, mulai dari Mabes hingga ke Polsek di pelosok desa.
“Polisi bersama masyarakat berarti Polri tidak berjarak dengan masyarakat. Kehadirannya bukan untuk ditakuti, melainkan untuk didengar, dirasakan manfaatnya, dan memberikan solusi atas kebutuhan warga,” ujar Isir di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Perubahan doktrin dari ‘Promoter’ (era Tito Karnavian & Idham Azis), lalu ‘Presisi’ (era Listyo Sigit Prabowo), hingga ‘Polisi Bersama Masyarakat’ mencerminkan adaptasi Polri menghadapi dinamika zaman.
Menariknya, Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menyampaikan pesan terbuka bahwa pimpinan Polri tidak boleh alergi atau menutup mata terhadap keluhan publik.
Bagi kepemimpinan baru ini, gelombang kritik yang datang berbasis fakta justru diposisikan sebagai sistem peringatan dini agar perbaikan layanan bisa langsung dieksekusi.
Arah baru ini sejalan dengan komitmen yang disampaikan Suyudi saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan di DPR RI.
Polri menegaskan posisinya untuk mengawal agenda nasional tanpa bersikap arogan, melainkan berfokus pada penegakan hukum yang berkeadilan, perlindungan publik, serta respons cepat terhadap laporan warga.
Kini, ujian sesungguhnya ada di lapangan, bagaimana nilai ‘Polisi Bersama Masyarakat’ betul-betul dihayati oleh seluruh personel agar kehadiran polisi di tengah warga tak lagi memicu rasa segan, melainkan menghadirkan rasa aman yang nyata.















