MOROWALI – Kawasan pertambangan nikel di Morowali, Sulawesi Tengah, kembali menjadi sorotan setelah sebuah penelusuran lapangan mendalam mengungkap sisi gelap dari hilirisasi industri nikel nasional.
Berdasarkan pantauan langsung yang dirilis dari dokumentasi akun Instagram Jucardines pada 23 September 2026, aktivitas tambang ini tidak hanya mengubah lanskap geografis, tetapi juga memicu krisis ekologi dan sosial yang mengancam kehidupan warga sekitar.
Inilah realitas pahit yang tersaji di balik megahnya kawasan industri tambang nikel Morowali—sebuah wilayah yang kian akurat dijuluki sebagai ‘Situs Neraka’ oleh mereka yang menyaksikan langsung kepedihannya.
Perjalanan menuju kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menyuguhkan medan yang sangat berat. Akses darat dari bandara menuju lokasi yang memakan waktu sekitar empat jam, terasa seperti perjalanan sepuluh jam akibat kondisi jalan yang rusak parah.
Tubuh seakan diguncang terus-menerus sepanjang perjalanan. Tak hanya itu, akses masuk ke dalam kawasan industri (IMIP) pun sangat ketat dan memerlukan izin khusus perusahaan, membuat ruang gerak pengawasan independen menjadi terbatas.
“Buat mereka kan gue masuk ke daftar biang onar, jadi nggak bisa dapat (izin masuk), bahkan dari hotel gue aja sebenarnya dampak tambangnya udah keliatan, nggak perlu jauh-jauh sebenarnya,” ujar penggiat dalam penelusuran tersebut, Sabtu (17/10/2026).
Dampak lingkungan yang paling mencolok terlihat dari perubahan warna air laut di sekitar kawasan pesisir yang berubah menjadi kemerahan. Menurut penjelasan dari para pekerja tambang, fenomena ini disebabkan oleh kandungan besi (iron) dalam nikel yang terbawa ke laut akibat pengelolaan limbah yang kurang optimal.
Kondisi ini langsung memukul telak sektor perikanan lokal. Warung-warung makan di sekitar kawasan yang sebelumnya mengandalkan hasil laut segar kini kesulitan mendapatkan pasokan ikan lokal.
Sebagian besar hasil laut harus didatangkan dari pulau lain yang lebih jauh. Ironisnya, para nelayan kecil di sekitar tambang, yang kehilangan sumber penghidupan akibat rusaknya ekosistem laut, terpaksa pindah dan menjual rumah mereka.
Selain isu lingkungan, penelusuran juga menyambangi sekretariat Serikat Buruh (FSPI-KPBI) yang mendampingi para pekerja. Di sana terungkap berbagai persoalan pelik mulai dari dugaan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak yang dimenangkan pekerja, dugaan kekerasan seksual di tempat kerja, hingga praktik union busting atau upaya pemberantasan serikat pekerja.
“Jadi ketika orang bilang tambang nikel membuka lapangan pekerjaan, mungkin benar, tapi di saat yang sama kita juga perlu melihat pekerjaan apa yang dia hilangkan,” tegasnya menutup catatan perjalanan tersebut.















Comments 3