KOLAKA – PT Vale Indonesia Tbk mulai membuka ruang keterlibatan bagi pelaku usaha lokal, untuk masuk dalam rantai pasok proyek strategis Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa. Komitmen tersebut diwujudkan melalui agenda Sosialisasi Prakualifikasi Vendor yang digelar di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Bertempat di Gedung Serbaguna Hotel Sutan Raja, kegiatan ini menghadirkan para pelaku usaha dari lima wilayah pemberdayaan IGP Pomalaa, meliputi Kecamatan Tanggetada, Pomalaa, Baula, Wundulako, dan Kolaka.
Tidak kurang dari sembilan asosiasi pengusaha daerah turut hadir dalam forum tersebut. Sosialisasi ini menjadi ajang krusial bagi para pengusaha lokal untuk memahami alur teknis, persyaratan legalitas, hingga mekanisme pengadaan di lingkungan proyek IGP Pomalaa.
Head of Pomalaa Project Vale Indonesia, Mohammad Rifai, mengatakan peningkatan kapasitas serta kesiapan vendor lokal merupakan bagian utama dari komitmen perusahaan, agar dampak ekonomi keberadaan proyek dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat sekitar.
“Kami ingin memastikan pelaku usaha lokal memiliki akses terhadap informasi yang sama dan kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dalam rantai pasok IGP Pomalaa. Melalui proses yang transparan dan terukur, kami berharap semakin banyak perusahaan lokal yang mampu memenuhi standar yang dipersyaratkan,” tegas Rifai dikutip pada laman ANTARA, Minggu (1/11/2026).
Dalam pemaparannya, pihak manajemen menjelaskan secara terperinci tahapan prakualifikasi yang mencakup kelengkapan administrasi, legalitas korporasi, kapabilitas teknis, hingga pemenuhan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Persyaratan K3 dan teknis menjadi perhatian utama, mengingat standar ketat yang diterapkan dalam industri pertambangan dan pengolahan nikel berskala global.
Rifai menambahkan, pelibatan kontraktor dan vendor lokal tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan operasional proyek semata, melainkan juga bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun ekosistem bisnis daerah yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Pengusaha Lokal Sambut Positif, Dorong Pendampingan Berkelanjutan
Langkah transparan yang dibuka oleh PT Vale Indonesia Tbk mendapat respons positif dari kalangan pelaku usaha di Kabupaten Kolaka.
Ketua Asosiasi Pengusaha Bumi Mekongga (APBM), Madi, menilai kegiatan sosialisasi ini memberikan kepastian dan kejelasan alur bagi pengusaha daerah yang ingin bermitra dengan proyek IGP Pomalaa.
“Momentum ini memberikan kesempatan kepada kontraktor lokal untuk mempersiapkan diri dan berkompetisi secara sehat melalui proses yang adil dan terbuka,” ujar Madi.
Senada dengan hal tersebut, anggota Asosiasi Kontraktor Jasa Pertambangan Pomalaa (ASKOJAPP), Alfian, mengapresiasi ruang dialog yang dibuka perusahaan. Namun, ia mengingatkan agar sosialisasi ini ditindaklanjuti dengan program pengembangan kapasitas secara intensif.
“Kami berharap Vale Indonesia dapat terus memberikan pendampingan kepada pengusaha dan asosiasi lokal sehingga semakin banyak perusahaan daerah yang siap mengikuti proses pengadaan secara profesional dan kompetitif,” jelas Alfian.
Tantangan Kesiapan dan Evaluasi Realisasi Contract
Terbukanya peluang rantai pasok pada proyek berskala raksasa seperti IGP Pomalaa menjadi iklim segar bagi roda perekonomian di Kabupaten Kolaka. Berbagai kebutuhan barang dan jasa pendukung proyek dinilai mampu menyerap potensi bisnis lokal secara signifikan.
Meski demikian, sosialisasi prakualifikasi baru merupakan langkah awal. Ujian sebenarnya bagi para pelaku usaha daerah adalah bagaimana membuktikan kesiapan riil di lapangan, mulai dari tertib administrasi hingga kepatuhan tinggi terhadap standar K3.
Ke depan, tolok ukur keberhasilan integrasi pengusaha lokal ini tidak hanya berhenti pada jumlah peserta sosialisasi, melainkan pada persentase kelolosan vendor lokal dalam tahap prakualifikasi, kesempatan memenangkan tender, hingga realisasi penyerapan kontrak kerja.
Dengan sinergi dan pendampingan yang tepat, kehadiran proyek IGP Pomalaa diharapkan mampu menjadi stimulus pertumbuhan daya saing UMKM dan kontraktor lokal di Sulawesi Tenggara.













