JAKARTA – Imbauan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat mulai mendapat perhatian di berbagai negara. Sedikitnya 33 negara disebut telah memiliki panduan bagi masyarakat untuk menyiapkan persediaan makanan, air minum, obat-obatan, dan kebutuhan pokok guna menghadapi kemungkinan krisis.
Informasi tersebut menjadi perhatian setelah Newsweek menerbitkan laporan yang dikutip Minggu (1/11/2026), mengenai peta negara-negara yang mendorong masyarakatnya memiliki persediaan kebutuhan darurat.
Rekomendasi setiap negara berbeda-beda. Sebagian menganjurkan masyarakat menyiapkan kebutuhan untuk bertahan selama sedikitnya 72 jam atau tiga hari. Negara lainnya menyarankan persediaan hingga sekitar satu minggu, bahkan 10 hari.
Namun, imbauan tersebut tidak berarti 33 negara sedang menghadapi ancaman perang secara bersamaan.
Panduan kesiapsiagaan itu berkaitan dengan berbagai kemungkinan keadaan darurat, mulai dari konflik bersenjata, bencana alam, cuaca ekstrem, pemadaman listrik, gangguan rantai pasokan, hingga serangan siber yang dapat mengganggu layanan penting.
Eropa Perkuat Strategi Kesiapsiagaan
Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian adalah langkah Uni Eropa memperkuat strategi kesiapsiagaan masyarakat.
Komisi Eropa meluncurkan Preparedness Union Strategy pada 26 Maret 2025 untuk meningkatkan kemampuan negara-negara anggotanya menghadapi berbagai ancaman dan situasi krisis.
Strategi tersebut mencakup 30 tindakan utama, termasuk memperkuat perlindungan infrastruktur penting, meningkatkan koordinasi penanganan krisis, serta mendorong masyarakat memiliki persediaan kebutuhan dasar untuk sedikitnya 72 jam.
Komisi Eropa juga menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik, konflik, ancaman keamanan siber, perubahan iklim, dan bencana alam sebagai faktor yang perlu diantisipasi.
Artinya, kesiapsiagaan tidak hanya berkaitan dengan kemungkinan perang, tetapi juga kemampuan masyarakat menghadapi gangguan terhadap berbagai layanan yang menopang kehidupan sehari-hari.
Rekomendasi Setiap Negara Berbeda
Berdasarkan laporan yang ditelusuri, sejumlah negara memiliki rekomendasi berbeda mengenai lamanya persediaan kebutuhan darurat.
Inggris, Prancis, Kanada, Jepang, Meksiko, dan Belanda termasuk negara yang menganjurkan persediaan untuk sekitar 72 jam.
Sementara itu, Swedia dan Norwegia merekomendasikan persediaan sekitar satu minggu. Jerman bahkan menganjurkan masyarakat memiliki persediaan yang dapat mencukupi kebutuhan hingga 10 hari.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa masing-masing negara mempertimbangkan kondisi geografis, potensi bencana, infrastruktur, serta risiko keamanan yang dihadapi.
Pemerintah Inggris, misalnya, melalui kampanye Be Ready mendorong masyarakat memiliki persediaan makanan tahan lama, air minum, obat-obatan, perlengkapan pertolongan pertama, senter, baterai, dan radio darurat.
Panduan tersebut juga mengingatkan masyarakat untuk mempertimbangkan kebutuhan anggota keluarga, termasuk bayi, lansia, dan orang yang membutuhkan obat-obatan rutin.
Indonesia Juga Memiliki Panduan Kesiapsiagaan
Di Indonesia, kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat sebenarnya bukan hal baru.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memiliki panduan Tas Siaga Bencana yang mendorong setiap keluarga menyiapkan kebutuhan dasar untuk menghadapi kondisi darurat.
Dalam panduan tersebut, masyarakat dianjurkan menyiapkan kebutuhan untuk sekitar tiga hari.
Perlengkapan yang disarankan meliputi makanan tahan lama, air minum, obat-obatan pribadi, kotak P3K, pakaian ganti, dokumen penting, uang tunai, senter, peluit, serta telepon seluler dan pengisi daya.
Tas tersebut disiapkan untuk membantu keluarga bertahan ketika bantuan belum tiba sekaligus memudahkan proses evakuasi apabila diperlukan.
BNPB juga menekankan pentingnya kesiapan keluarga dalam menghadapi berbagai jenis bencana, termasuk memahami jalur evakuasi, menentukan titik kumpul, dan mengetahui langkah penyelamatan diri.
Bukan Alasan untuk Panik dan Menimbun Kebutuhan
Meningkatnya perhatian terhadap kesiapsiagaan global perlu disikapi secara rasional.
Imbauan menyiapkan persediaan darurat bukan bukti bahwa perang dunia atau krisis besar akan segera terjadi.
Sebaliknya, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mengurangi risiko ketika terjadi gangguan terhadap layanan publik dan kebutuhan dasar masyarakat.
Kesiapan sederhana di tingkat keluarga, dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap bantuan langsung pada masa awal bencana.
Masyarakat dapat mulai memeriksa persediaan makanan, air minum, obat-obatan, dan perlengkapan darurat yang sudah tersedia di rumah.
Persediaan juga perlu disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga dan diperiksa secara berkala agar tidak kedaluwarsa.
















