JAKARTA – Penguatan investasi berkualitas, hilirisasi industri, dan peningkatan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi sejumlah perhatian dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia 2026.
Forum yang berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta, pada 29–30 Oktober 2026 tersebut menjadi ruang konsolidasi antara pemerintah dan dunia usaha untuk membahas arah kebijakan ekonomi serta strategi memperkuat daya saing nasional.
Salah satu isu penting yang mengemuka adalah, perlunya investasi yang tidak hanya berorientasi pada besarnya modal, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, dan penciptaan lapangan kerja.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan investasi berkualitas harus mampu meningkatkan kapasitas tenaga kerja dan mendorong transfer pengetahuan serta teknologi.
Rosan juga menyoroti pentingnya hilirisasi nikel, sebagai salah satu contoh peningkatan nilai tambah sumber daya alam melalui pengembangan industri pengolahan di dalam negeri.
Menurut data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM yang disampaikan Rosan, realisasi investasi selama triwulan IV-2024 hingga triwulan III-2026 mencapai Rp3.923,2 triliun. Investasi itu disebut telah menyerap 5,48 juta tenaga kerja.
Rosan menambahkan, nilai ekspor nikel dan produk turunannya mencapai 30 miliar dolar AS pada 2025, meningkat dibandingkan sekitar 3,3 miliar dolar AS sebelum pengembangan hilirisasi.
Tantangan Bagi Daerah Penghasil Nikel
Pembahasan investasi berkualitas memiliki relevansi tersendiri bagi daerah penghasil nikel, termasuk Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Sebagai salah satu kawasan yang berkembang dengan aktivitas pertambangan dan industri pengolahan nikel, Morowali menghadapi tantangan untuk memastikan pertumbuhan investasi memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan perekonomian daerah.
Kehadiran investasi industri perlu diikuti peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal, perluasan kesempatan usaha bagi pelaku UMKM, serta keterlibatan perusahaan daerah dalam rantai pasok industri.
Dengan demikian, keberhasilan hilirisasi tidak cukup hanya dilihat dari besarnya nilai investasi dan ekspor produk olahan.
Peningkatan kualitas pekerjaan, transfer teknologi, penguatan pemasok lokal, dan tumbuhnya usaha masyarakat juga menjadi bagian penting dari manfaat ekonomi yang perlu diperhatikan.
Bagi daerah seperti Morowali, tantangan berikutnya adalah memastikan peluang dari investasi dan hilirisasi dapat dimanfaatkan secara optimal oleh tenaga kerja, pengusaha lokal, serta UMKM di sekitar kawasan industri.














